Selasa, 14 Juli 2009
PENDAHULUAN
Secara diktomis, Brown dan Yule (1996: 1) membedakan fungsi bahasa menjadi dua, yaitu fungsi transaksional dan fungsi interaksional. kedua fungsi tersebut mempunyai rujukan yang sama dengan fungsi representatif dan emotif, atau fungsi ideasional dan fungsi interpersonal, serat fungsi deskriptif dan sosial ekspresif.
Berdasarkan dikotomi Brown dan Yule tersebut, kemudian dikenal bahasa transaksional dan bahasa interaksional. bahasa transaksional digunakan untuk menyampaikan informasi faktual atau proposional, sedangkan bahasa interaksional digunakan untuk memantapkan dan memelihara hubungan-hubungan sosial (Brown dan Yule, 1996: 3).
Para linguis dan ahli filsafat bahasa pada umumnya memberikan perhatian khusus pada penggunaan bahasa unutk menyampaikan informasi faktual atau proposional. sedangkan para ahli sosiologi dan sosiolinguistik memberi perhatian pada penggunaan bahasa sehari-hari untuk membentuk dan memelihara hubungan sosial. ketertarikan masing-masing kelompok pada fungsi tertentu dari bahasa tersebut mempunyai dasar pemikiran tersendiri. kelompok pertama berpandangan bahwa bahasa memang sangat mungkin dipakai untuk melaksanakan banyak fungsi komunikasi, tetapi fungsi yang paling penting adalah untuk menyampaikan informasi. untuk itu pembicara perlu menyampaikan informasi secara efektif, menyatakan informasi secara jelas (Brown dan Yule, 1996: 2).
Sementara itu, kelompok kedua berpandangan bahwa sebagian besar interaksi manusia sehari-hari ditandai dengan pemakaian bahasa yang utama secara interpersonal dan bukan transaksional (Brown dan Yule, 1996: 3). Dijk (dalam Jamal, 2001: 2) lebih lanjut mengemukakan bahwa ketertarikan ahli sosiologi dan sosiolinguistik pada bahasa interaksional disebabkan oleh beberapa faktor berikut 1) percakapan sehari-hari dilakukan orang setiap waktu, 2) secara tersirat orang menggunakan metode tahu sama tahu terhadap pengetahuan sosial, padahal bisa saja mereka mendapatkan masalah, 3) nosi pemahaman penafsiran dan penciptaan pengertian memegang peranan penting dan berkaitan dengan gagasan hakikat realitas sosial pada umumnya dari percakapan sehari-hari khususnya.
Rumusan Masalah
1. Apa sajakah topic percakapan ……..?
2. Bagaimanakah struktur percakapan ………...?
3. Bagaimanakah strategi kesantunan yang digunakan oleh ………..?
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mendeskripsikan dan menjelaskan topic percakapan ……..
2. Mendeskripsikan dan menjelaskan struktur percakapan dalam percakapan ……..
3. mendeskripsikan dan menjelaskan strategi kesantunan yang digunakan oleh ………
Manfaat Penelitian
a. Manfaat teoritis pada penelitian ini adalah diharapkan untuk memeberi sumbangan pada bidang analisis wacana dan pragmatik, yang khususnya berkaitan dengan karakteristik percakapan …….. dilihat dari aspek topik, struktur percakapan, dan strategi kesantunan.
b. Sedangkan manfaat praktis dari penelitian ini adalah diharapkan dapat memberi masukan bagi penutur atau pemakai bahasa Indonesia dalam melakukan percakapan dalam berkomunkasi. Disamping itu, diharapkan hasil dari penelitian ini bisa diharapkan menjadi tambahan wawasan untuk peneliti lain dalam mengembangkan permaslahan analisis percakapan.
Batasan Istilah
1. Percakapan adalah interaksi antarindividu dalam masyarakat secara timbal balik yang dinyatakan dengan pertukaran dalam pemakaian bahasa.
2. Topik percakapan adalah suatu hal yang dibicarakan dan dikembangkan leh partisipan sehingga membentuk suatu wacana percakapan.
3. Struktur percakapan adalah suatu susunan pasangan ujar terdekat dalam suatu segmen percakapan.
4. Strategi kesantunan adalah cara yang dipilih oleh penutur untuk menghindari tindak tutur yang mengancam muka.
KAJIAN PUSTAKA
Penelitian Sebelumnya
Penelitian tentang analisis percakapan ini pernah dilakukan oleh Tannen dan Cynthia Wallat (1986), Wynn (1995), dan Robert (1996).
Tannen dan Wallat mengkaji percakapan antara petugas medis dengan lima keluarga pada kasus penyakit anak. Percakapan tersebut direkam dengan menggunakan video kaset. Berdasarkan analisis terhadap rekaman percakapan tersebut ditemukan bahwa (1) informasi dinegosiasikan dan ditemukan selama wawancara medis berlangsung. (2) pertukaran informasi sering kurang memadai dibandingkan skema kognitif yang telah dimiliki oleh partisipan selama interaksi berlamngsung.
Penelitian Wynn menggunakan dua pendektan yaitu pendekatan analisis percakapan dan pendekatan medis. Pendekatan medis diterapkan dalam penelitiannya karena selain seorang linguis, Wynn juga seorang dokter. Penelitian Robert mengambil subjek percakapan dokter dengan pasien penderita kangker payudara. Penelitian difokuskan pada rekomendasi yang diberikan oleh dokter pada pasien ketika mereka melakukan kunjungan untuk perawatan.
ANALISIS PERCAKAPAN
Pengertian
Analisis percakapan adalah analisis yang sistematis tentang peristiwa berbicara yang dihasilkan dalam setiap situasi interaksi percakapan (talk-in-interaction). Analisis percakapan adalah kajian rekaman tentang percakapan dalam interaksi yang terjadi secara alamiah. Pada prinsipnya, analisis percakapan bertujuan untuk menemukan cara-cara partisipan mengerti dan menanggapi penuturan antara partisipan yang satu dengan yang lain dalam suatu giliran berbicara, dengan menitikberatkan pada urutan perilaku. Hal itu berarti analisis percakapan dapat menemukan langkah-langkah yang tidak dapat diduga sebelumnya dan kompetensi sosiolinguistik yang mendasari produksi dan interpretasi percakapan yang urutan interaksinya teratur (Hutchby dan Wooffitt, 1998).
Analisis percakapan adalah sebuah permulaan yang radikal dari bentuk-bentuk analisis yang diorientasikan secara linguistik pada produksi tuturan dan khususnya perolehan pengertian yang tidak hanya dilihat pada struktur bahasa tetapi yang pertama dan utama adalah sebagai sebuah penyelesaian sosial yang praktis. Hal itu berarti kata-kata yang digunakan pada saat berbicara tidak dikaji sebagai kesatuan-kesatuan semantik, tetapi sebagai hasil atau tujuan yang dibentuk dan digunakan dalam batasan aktivitas-aktivitas perundingan dalam berbicara, seperti salam, sapaan, keluhan, dan sebagainya.
Dengan percakapan, penutur menunjukkan urutan-urutan berikutnya dari sebuah pemahaman yang dibicarakan sebelumnya. Hal itu akan dapat menunjukkan hal-hal utama yang dikehendaki ataupun tidak dikehendaki oleh penutur. Langkah-langkah tersebut disebut sebagai langkah-langkah pembuktian giliran berikutnya (next-turn proof procedure). Langkah-langkah tersebut menjadi alat dasar dalam analisis percakapan untuk menjamin bahwa analisis benar-benar didasarkan pada kelengkapan percakapan sebagai orientasi partisipan dalam menyelesaikan percakapannya, bukan semata-mata didasarkan pada asumsi analis.
Urutan-urutan tuturan dalam sebuah percakapan akan memberikan kepastian informasi yang dikehendaki oleh partisipan dengan adanya pasangan tuturan yang berdekatan (adjacency pair). Pasangan tuturan yang berdekatan ini akan mempertegas langkah-langkah pembuktian terhadap cara-cara partisipan memahami dan membuat pengertian tentang tuturan yang ada. Langkah-langkah pembuktian itu didasarkan pada tiga hal penting tentang peristiwa percakapan. Pertama, tuturan dapat dipandang sebagai tujuan penutur untuk menggunakannya bagi penyelesaian sesuatu yang khusus dalam berinteraksi dengan yang lain daripada hanya sekedar mendengar. Kedua, tuturan terjadi dalam konteks khusus yang memerlukan jawaban-jawaban metodis. Karakteristik metodis berbicara selalu ditujukan pada detail-detail interaksi dan konteks urutan dalam percakapan yang dihasilkan yang biasa disebut dengan tindak tutur. Ketiga, analisis percakapan merupakan sebuah metode ilmiah sosial. Hal itu didasarkan pada pandangan bahwa suatu percakapan dalam interaksi terdiri atas hubungan sebab-akibat yang menggunakan variabel-variabel linguistik yang dipengaruhi oleh variabel-variabel sosial (Hutchby dan Wooffitt, 1998:21).
Dasar-Dasar Analisis Percakapan
Interaksi merupakan suatu tujuan utama dalam penelitian sebuah percakapan. Hal itu didasarkan pada asumsi bahwa interaksi dalam percakapan mampu menggambarkan hubungan sosial dasar dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penelitian percakapan tidak dapat terlepas dari unit-unit aktivitas sosial. Dalam unit-unit aktivitas sosial itu, keterlibatan penutur dan petutur dalam sebuah percakapan akan dipengaruhi oleh nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku. Nilai-nilai dan norma-norma itu diperoleh melalui proses pelembagaan yang dilakukan oleh lingkungan tempat penutur dan petutur melakukan aktivitas percakapan. Nilai-nilai dan norma-norma itu membawa konsekuensi bagi penutur dan petutur untuk melakukan proses-proses produksi linguistik yang diwujudkan dalam performansi bahasa tertentu, misalnya pemilihan kata, jeda percakapan, pengambilalihan giliran, dan pilihan bentuk-bentuk metalingistik. Dengan demikian, percakapan tidak hanya sekedar memproduksi tuturan yang mengacu kepada rangkaian kalimat, tetapi terdapat proses internal untuk dapat menggunakan rangkaian kalimat itu dalam sebuah tuturan yang sesuai. Sadtono (1987:149) menyebut tuturan yang sesuai itu dengan istilah “empan-papan bahasa” (language appropriateness).
Sadtono, E. 1987. Antologi Pengajaran bahasa asing Khususnya Bahasa Inggris. Jakarta: Depdikbud
Sebagai sebuah proses yang bersifat internal, maka tuturan yang dihasilkan dalam suatu percakapan merupakan (1) hasil dari perkembangan perasaan, hasrat, dan kebutuhan, sehingga perasaan, hasrat, dan kebutuhan tersebut mendorong seseorang untuk mengkomunikasikannya kepada orang lain, (2) proses pengubahan pikiran ke dalam bentuk bahasa, (3) penggunaan suara-suara, kata-kata, dan bentuk-bentuk yang disimpan ke dalam jaringan kognitif internal, (4) kompetensi penutur untuk ikut mengambil peran, dan (5) performansi bahasa penutur dan petutur untuk saling mendengarkan hasil tuturan yang diwujudkan dalam perilaku. Dengan demikian, tuturan adalah suatu proses sosial yang dipengaruhi oleh faktor sosial dan kognitif. Faktor-faktor itu diwujudkan ke dalam kekuatan pendorong pikiran, isi tuturan, pengetahuan sistem bahasa, keaslian pikiran, arah yang diambil, situasi yang dituturkan, dan orang-orang yang diajak bertutur (Chastain, 1976:332).
Agar faktor-faktor sosial dan kognitif tersebut dapat bekerja dengan maksimal, maka diperlukan empat tipe modal yang menonjol dan saling berkaitan. Tipe modal pertama adalah tipe afektif dan emosional. Hal itu mengandung arti bahwa percakapan mempunyai fungsi inti untuk menyampaikan dan mendistribusikan kegembiraan dan orientasi positif dan negatif antarpartisipan. Tipe modal kedua adalah berbagi informasi. Hal itu mengandung arti bahwa percakapan mempunyai fungsi inti untuk menyampaikan informasi dalam sebuah komunikasi antara dua orang atau lebih. Berbagi informasi adalah memasukkan tambahan pengetahuan yang tidak terbatas dan melanjutkan upaya perluasan asosiasi yang sangat khusus. Tipe modal ketiga adalah resolusi yang difokuskan ke arah tujuan pernyataan atau pengakuan. Tujuan pernyataan atau pengakuan mensyaratkan adanya sejumlah reorganisasi sudut pandang dan sejumlah akomodasi dari masing-masing partisipan agar sampai pada suatu kesepakatan. Poses resolusi itu mencakup kesepakatan, konflik, debat, diskusi, dan sebuah integrasi ekspresi ide-ide yang muncul pada saat terjadinya pertukaran informasi. Tipe modal keempat adalah interaksi ramah tamah yang mencakup keramahtamahan yang diperbolehkan, pertimbangan-pertimbangan, kepedulian, dan kespontanitasan. Kontak keramahtamahan ini menetapkan adanya suatu kepedulian yang dilanjutkan pada hubungan antarpartisipan dan pengembangan penyebaran informasi. Informasi dipindahkan ke dalam suatu unit-unit verbal. Berdasarkan unit-unit verbal itu, kepadatan informasi, efisiensi waktu, dan keberhasilan akumulasi elemen-elemen percakapan dapat diidentifikasi. Dalam proses pemindahan informasi itu akan didapatkan bukti-bukti fasilitasi dan gangguan interaksi yang eksplisit. Semua itu terjadi secara terorganisasi dan terstruktur. Hal itu sebagai akibat dari adanya proses logika dan tangapan antarpartisipan yang kompleks. Oleh karena itu, penelitian percakapan mensyaratkan adanya teknik yang beragam dan pendekatan teoretis yang sesuai dengan data yang akan dianalisis (Allen dan Guy, 1978:34).
Ada dikotomi dalam analisis proses interaksi yang dicetuskan oleh Bales (dalam Allen dan Guys, 1978:37) yang terdiri dari enam proses. Enam proses itu dibagi menjadi dua tipe. Tipe pertama disebut oposisi fungsional (fungsional oppossition) yang mencakup komponen sosial emosional dan tipe kedua disebut oposisi direksional (directional oppossition) yang mencakup tugas performansi. Oposisi fungsional terdiri dari keramahtamahan, dramatisasi, dan kesepakatan. Oposisi direksional terdiri dari pemberian sugesti, pemberian opini, dan pemberian informasi.
Topik Percakapan
Berkaitan dengan pengertian topik, Rani dkk, (2004: 144) menyatakan bahwa topik merupakan bagian yang difokuskan dan yang diterangkan oleh bagian lain (komentar). Dalam konteks wacana, topik merupakan suatu ide atau hal yang dibicarakan dan dikembangkan sehingga membentuk suatu wacana. Pendapat lain dikemukakan oleh Alwi (2000: 435) yang menjelaskan bahwa topik merupakan proposisi yang berwujud frasa atau kalimat yang menjadi inti pembicaraan atau pembahasan. Dalam percakapan, pembicara dapat berbicara tentang sebuah topik, masing-masing berbicara tentang tpiknya sendiri, atau mereka sama-sama berbicara topik yang sama.
Topik merupakan pokok permasalahan yang muncul dalam setiap percakapan. Berbagai macam topik percakapan menjadi bahan percakapan. Bahkan dalam satu peristiwa percakapan bisa muncul dua atau lebih topik percakapan. Seperti yang terjadi dalam percakapan mahasiswa pondokan dalam situasi yang tidak resmi. Topik tersebut dapat berganti-ganti sesuai dengan keinginan para penuturnya. Tidak ada batasan yang ditentukan dalam kegiatan percakapan mahasiswa pondokan tadi. Mereka tidak pernah memfokuskan topik pembicaraan.
Ketika terjadi pergantian topik-topik percakapan, terdapat struktur pertukaran percakapan yang harus diperhatikan. Dalam setiap pertukaran percakapan akan diawali oleh pemicu atau inisiasi. Inisiasi tersebut berfungsi sebagai pembuka interaksi. Kemudian, inisiasi tersebut akan diikuti oleh sebuah tanggapan. Tanggapan tersebut merupakan respons dari mitra tutur dalam percakapan. Dari tanggapan itu akan diikuti juga oleh sebuah balikan yang bersifat manasuka. Alih tutur juga merupakan bagian dari sebuah percakapan, meliputi bagaimana cara mengambil alih giliran bicara dan bagaimana cara memberikan giliran bicara.
Topik merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam percakapan. Howe (1983: 5) mengatakan bahwa topik merupakan syarat terbentuknya wacana percakapan. Analisis topik dalam wacana tidak cukup dengan menganalisis sebuah kalimat. Topik itu dapat dididentifikasi bila analisis wacana memahami konteks wacana yang mendukungnya.
Menurut Brown dan Yule (1983: 69), unutk menganalisis topik wacana diperlukan suatu penggal wacana secara utuh. Yang menjadi masalah adalah bagaimanakah penganalisis memutuskan apa yang telah diambil itu merupakan satuan yang memuaskan untuk dianalisis. Penentuan kapan penggalan wacana itu dimulai dan diakhiri merupakan suatu hal yang rumit. Memang ada ungkapan-ungkapan yang digunakan untuk menandai permulaan suatu wacana yang utuh. Akan tetapi, penutur-penutur sering kali tidak memberikan petunjuk-petunjuk yang begitu jelas untuk membantu penganalisis memlih potongan-potongan wacana yang dipelajari. Unutk itu penentuan penggalan wacana lebih banyak ditentukan oleh intuisi.
Beehubungan dengan topik percakapan, Syamsudin (1992: 55) membedakan adanya dua topik dalam percakapan. Pertama, topik umum, yaitu pokok pangkal pembicaraan yang berperan sebagai judul atau tema. Topik ini mengaarahkan seluruh percakapan sehingga tujuan percakapan tercapai. Kedua, topik-topik kecil yaitu aspek-aspek tertentu yang timbul dalam rangkaian keseluruhan percakapan. Kadang-kadang topik-topik itu berubah-ubah dan meloncat-loncat seirama dengan situasi percakapan.
Struktur Percakapan
Salah satu asumsi analisis percakapan adalah bahwa interaksi dalam suatu percakapan diorganisasikan secara struktural (Sciffrin, 1994: 236). Struktur organisasi suatu percakapan berkaitan erat dengan pasangan ujar terdekat. Pasangan ujar terdekat merupakan urutan dua ujaran yang dihasilkan oleh penutur-penutur yang berbeda. Bagian ujaran yan pertama memunculkan bagian yang kedua. Misalnya pada pasangan ujaran: panggilan-jawaban. Deringan telepon misalnya merupakan suatu panggilan. Panggilan tersebut membuka kondisi yang relevan bagi bagian yang kedua yaitu suatu jawaban. Lebih lanjut Schiffin menyatakan bahwa pasangan ujar terdekat merupakan suatu pola organisasi yang tetap, tindakan-tindakan yang menyiapkan dan merefleksikan urutan dalam suatu percakapan. Pasangan ujar terdekat dapat ditemukan dengan mencari pola-pola yang berulang, distribusi-distribusi, dan bentuk-bentuk organisasi dari suatu percakapan yang luas.
Menurut Richards dan Schmidt (1984: 127), identifikasi terhadap pasangan ujar terdekat merupakan masalah pokok dalam analisis percakapan. Dengan mengidentifikasi pola-pola urutan yang diterapkan pada ujaran-ujaran dalam interaksi tersebut, dapat diketahui koherensi suatu percakapan. Oleh Richards dan Schimdt, pasangan ujaran terdekat diartikan sebagai ujaran-ujaran yang dihasilkan oleh dua orang penutur yang berurutan, ujaran kedua diidentifikasi mempunyai hubungan dan merupakan tindak lanjut dari ujaran pertama.
Dalam pasangan ujar terdekat, ujaran kedua sebagai tanggapan atau respon dari ujaran pertama dapat dibagi menjadu dua bagian, yaitu ujaran yang disukai dan ujaran yang tidak disukai (Levinson, 1983: 336). Ujaran yang berisi permintaan misalnya, dapat memunculkan respon yang dikabulkan atau ditolak. Pengkabulan merupakan respon yang disukai sementara penolakan adalah respon yang tidak disukai. Misalnya pada ujaran:
A:
B:
C:
Bagi A, jawaban B lebih diharapkan daripada jawaban C. Jawaban B perupakan pengabulan, sementara jawaban C merupakan bentuk penolakan.
Kesantunan Berbahasa
Pengertian Kesantunan
Kesantunan (politiness), kesopansantunan, atau etiket adalah tatacara, adat, atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Kesantunan merupakan aturan perilaku yang ditetapkan dan disepakati bersama oleh suatu masyarakat tertentu sehingg kesantunan sekaligus menjadi prasyarat yang disepakati oleh perilaku sosial. Oleh karena itu, kesantunan ini biasa disebut "tatakrama".
Berdasarkan pengertian tersebut, kesantunan dapat dilihat dari dari berbagai segi dalam pergaulan sehari-hari. Pertama, kesantunan memperlihatkan sikap yang mengandung nilai sopan santun atau etiket dalam pergaulan sehari-hari. Ketika orang dikatakan santun, maka dalam diri seseorang itu tergambar nilai sopan santun atau nilai etiket yang berlaku secara baik di masyarakat tempat seseorang itu megambil bagian sebagai anggotanya. Ketika dia dikatakan santun, masyarakat memberikan nilai kepadanya, baik penilaian itu dilakukan secara seketika (mendadak) maupun secara konvensional (panjang, memakan waktu lama). Sudah barang tentu, penilaian dalam proses yang panjang ini lebih mengekalkan nilai yang diberikan kepadanya.
Kedua, kesantunan sangat kontekstual, yakni berlaku dalam masyarakat, tempat, atau situasi tertentu, tetapi belum tentu berlaku bagia masyarakat, tempat, atau situasi lain. Ketika seseorang bertemu dengan teman karib, boleh saja dia menggunakan kata yang agak kasar dengan suara keras, tetapi hal itu tidak santun apabila ditujukan kepada tamu atau seseorang yang baru dikenal. Mengecap atau mengunyah makanan dengan mulut berbunyi kurang sopan kalau sedang makan dengan orang banyak di sebuah perjamuan, tetapi hal itu tidak begitu dikatakan kurang sopan apabila dilakukan di rumah.
Ketiga, kesantunan selalu bipolar, yaitu memiliki hubungan dua kutub, seperti antara anak dan orangtua, antara orang yang masih muda dan orang yang lebih tua, antara tuan rumah dan tamu, antara pria dan wanita, antara murid dan guru, dan sebagainya.
Keempat, kesantunan tercermin dalam cara berpakaian (berbusana), cara berbuat (bertindak), dan cara bertutur (berbahasa).
Jenis Kesantunan
Berdasarkan butir terakhir itu, kesantunan dapat dibagi tiga, yaitu kesantunan berpakaian, kesantunan berbuat, dan kesantunan berbahasa. Kecuali berpakaian, dua kesantunan terakhir tidak mudah dirinci karena tidak ada norma baku yang dapat digunakan untuk kedua jenis kesantunn itu.
Dalam kesantunan berpakaian (berbusana, berdandan), ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, berpakaianlah yang sopan di tempat umum, yaitu hindarilah pakaian yang dapat merangsang orang lain terutama lawan jenis, seperti pakaian tembus pandang (transparan), menampakkan bagian badan yang pada umumnya ditutup, dan rok yang terlalu mini atau terbelah terlalu tinggi. Kedua, berpakaianlah yang rapi dan sesuai dengan keadaan, yaitu berpakaian resmi pada acara resmi, berpakaian santai pada situasi santai, berpakaian renang pada waktu renang. Betapapun mahalnya pakaian renang, tidak akan sesuai apabila dipakai dalam suatu acara resmi.
Kesantunan perbuatan adalah tatacara bertindak atau gerak-gerik ketika menghadapi sesuatu atau dalam situasi tertentu.misalnya ketika menerima tamu, bertamu ke rumah orang, duduk di ruang kelas, menghadapi orang yang kita hormati, berjalan di tempat umum, menunggu giliran (antre), makan bersama di tempat umum, dan sebagainya. Mmasing-masing situasi dan keadaan tersebut memerlukan tatacara yang berbeda. Pada waktu makan bersama, misalnya, memerlukan kesantuan dalam cara duduk, cara mengambil makanan, cara makan atau mengunyah, cara memakai sendok, cara membersihkan mulut setelah makan, dan cara memakai tusuk gigi. Sekedar contoh terkait dengan kesantunan tindakan, misalnya tidaklah santun apabila kita berwajah murung ketika menerima tamu, duduk dengan "jigrang" ketika mengikuti kuliah dosen,bertolak pinggang ketika berbicara dengan orang tua, mendahului orang lain dengan bersenggolan badan atau ketika berjalan di tempat umum tanpa sebab, nyelonong ke loket ketika yang lain sedang antre menanti giliran, menguap selebar-lebarnya sambil mengeluarkan suara di depan orang lain, dan mencungkil gigi tanpa menutup mulut ketika sedang makan bersama di tempat umum.
Kesantunan berbahasa tercermin dalam tatacara berkomunikasi lewat tanda verbal atau tatacara berbahasa. Ketika berkomunikasi, kita tunduk pada norma-norma budaya, tidak hanya sekedar menyampaikan ide yang kita pikirkan. Tatacara berbahasa harus sesuai dengan unsur-unsur budaya yang ada dalam masyarakat tempat hidup dan dipergunannya suatu bahasa dalam berkomunikasi. Apabila tatacara berbahasa seseorang tida sesuai dengan norma-norma budaya, maka ia akan mendapatkan nilai negatif, misalnya dituduh sebagai orang yang sombong, angkuh, tak acuh, egois, tidak beradat, bahkan tidak berbudaya.
Tatacara berbahasa sangat penting diperhatikan para peserta komunikasi (komunikator dan komunikan) demi kelancaran komunikasi. Oleh karena itu, masalah tatacara berbahasa ini harus mendapatkan perhatian, terutama dalam proses belajar mengajar bahasa. Dengan mengetahui tatacara berbahasa diharapkan orang lebih bisa memahami pesan yang disampaikan dalam komunikasi karena tatacara berbahasa bertujuan mengatur serangkaian hal berikut.
1. Apa yang sebaiknya dikatakan pada waktu dan keadaan tertentu.
2. Ragam bahasa apa yang sewajarnya dipakai dalam situasi tertentu.
3. Kapan dan bagaimana giliran berbicara dan pembicaraan sela diterapkan.
4. Bagaimana mengatur kenyaringan suara ketika berbicara.
5. Bagaimana sikap dan gerak-gerik keika berbicara.
6. Kapan harus diam dan mengakhiri pembicaraan.
Tatacara berbahasa seseorang diengaruhi norma-norma budaya suku bangsa atau kelompok masyarakat tertentu. Tatacara berbahasa orang Inggris berbeda dengan tatacara berbahasa orang Amerika meskipun mereka sama-sama berbahasa Inggris. Begitu juga, tatacara berbahasa orang Jawa bebeda dengan tatacara berbahasa orang Batak meskipun mereka sama-sama berbahasa Indonsia. Hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan yang sudah mendarah daging pada diri seseorang berpengaruh pada pola berbahasanya. Itulah sebabnya kita perlu mempelajari atau memahami norma-norma budaya sebelum atau di samping mempelajari bahasa. Sebab, tatacara berbahasa yang mengikuti norma-norma budaya akan menghasilkan kesantunan berbahasa.
Pembentukan Kesantunan Berbahasa
Sebagaimana disinggung di muka bahwa kesantunan berbahasa menggambarkan kesantunan atau kesopansantunan penuturnya. Kesantunan berbahasa (menurut Leech, 1986) pada hakikatnya harus memperhatikan empat prinsip.
Pertama, penerapan prinsip kesopanan (politeness principle) dalam berbahasa. Prinsip ini ditandai dengan memaksimalkan kesenangan/kearifan, keuntungan, rasa salut atau rasa hormat, pujian, kecocokan, dan kesimpatikan kepada orang lain' dan (bersmaan dengan itu) meminimalkan hal-hal tersebut pad diri sendiri.
Dalam berkomunikasi, di samping menerapkan prinsip kerja sama (cooperative principle) dengan keempat maksim (aturan) percakupannya, yaitu maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim cara; juga menerapkan prinsip kesopanan dengan keenam maksimnay, yaitu (1) maksim kebijakan yang mengutamakan kearifan bahasa, (2) maksim penerimaan yang menguatamakan keuntungan untuk orang lain dan kerugian untuk diri sendiri, (3) maksim kemurahan yang mengutamakan kesalutan/rasa hormat pada orang lain dan rasa kurang hormat pada diri sendiri, (4) maksim kerendahan hati yang mengutamakan pujian pada orang lain dan rasa rendah hati pada diri sendiri, (5) maksim kecocokan yang mengutamakan kecocokan pada orang lain, dan (6) maksim kesimpatisan yang mengutakan rasa simpati pada orang lain. Dengan menerapkan prinsip kesopanan ini, orang todak lagi menggunakan ungkapan-ungkapan yag merendahkan orang lain sehingga komunikasi akan berjalan dalam situasi yang kondusif.
Berkut ini contoh yang memperlihatkan bahwa si A mengikuti prinsip kesopanan dengan memaksimalkan pujian kepada temannya yang baru saja lulus magister dengan predikat cumlaud dan tepat waktu, tetapi si B tidak mengikuti prinsip kesopanan karena memaksimalkan rasa hormat atau rasa hebat pada diri sendiri.
A : Selamat, Anda lulus dengan predikat maksimal!
B : Oh, saya memang pantas mendapatkan predikat cumlaud.
Kedua, penghindaran pemakaian kata tabu (taboo). Pada kebanyakan masyarakat, kata-kata yang berbau seks, kata-kata yang merujuk padaorgan-organ tubuh yang lazimditutupi pakaian, kata-kata yang merujuk pada sesuatu benda yang menjijikkan, dan kata-kata "kotor" daqn "kasar" termasuk kata-kata tabu dan tidak lazim digunakan dalam berkomunikasi sehari-hari, kecuali untuk tujuan-tujuan tertentu. Contoh berikut ini merupaka kalimat yang menggunakan kata tabu karena diucapkan oelh mahasiswa kepada dosen ketika perkuliahan berlangsung.
- Pak, mohon izin keluar sebentar, saya mau berak!
- Mohon izin, Bu, saya ingin kencing!
Ketiga, sehubungan dengan penghindaran kata tabu, penggunaan eufemisme, yaitu ungkapan penghalus. Penggunaan eufemisme ini perlu diterapkan untuk menghindari kesan negatif. Contoh kalimat mahasiswa yang tergolong tabu di atas akan menjadi ungkapan santun apabila diubah dengan penggunaan eufemisme, misalnya sebagai berikut.
- Pak, mohon izin sebentar, sya mau buang air besar.
Atau, yang lebih halus lagi:
- Pak,mohon izin sebentar, saya mau ke kamar kecil.
Atau, yang peling halus:
- Pak, mohon izin sebentar, saya mau ke belakang.
Yang perlu diingat adalah, eufemisme harus digunakan secara wajar, tidak berlebihan. Jika eufemisme telah menggeser pengertian suatu kata, bukan untuk memperhalus kata-kata yang tabu, maka eufemisme justru berakibat ketidaksantunan, bahkan pelecehan. Misalnya, penggunaan eufemisme dengan menutupi kenyataan yang ada, yang sering dikatakan pejabat. Kata "miskin" diganti dengan "prasejahtera", "kelaparan" diganti dengan "busung lapar", "penyelewengan" diganti "kesalahan prosedur, "ditahan" diganti "dirumahkan", dan sebagainya. Di sini terjadi kebohongan publik. Kebohongan itu termasuk bagian dari ktidaksantunan berbahasa.
Keempat, penggunaan pilihan kata honorifik, yaitu ungkapan hormat untuk berbcara dan menyapa orang lain. Penggunaan kata-kata honorifik ini tidak hanya berlaku bagi bahasa yang mengenal tingkatan (undha-usuk, Jawa) tetapi berlaku juga pada bahasa-bahasa yang tidakmengenal tingkatan. Hanya saja, bagi bahasa yang mengenal tingkatan, penentuan kata-kata honorifik sudah ditetapkan secara baku dan sistematis untuk pemakaian setiap tingkatan. Misalnya, bahasa krama inggil (laras tinggi) dalam bahasa Jawa perlu digunakan kepada orang yang tingkat sosial dan usianya lebih tinggi dari pembicara; atau kepada orang yang dihormati oleh pembicara.
Walaupun bahasa Indonesia tidak mengenal tingkatan, sebutan kata diri Engkau, Anda, Saudara, Bapak/bu mempunyai efek kesantunan yang berbeda ketika kita pakai untuk menyapa orang. Keempat kalimat berikut menunjukkan tingkat kesantunan ketika seseorang pemuda menanyakan seorang pria yang lebih tua.
(1) Engkau mau ke mana?
(2) Saudara mau ke mana?
(3) Anda amau ke mana?
(4) Bapak mau ke mana?
Dalam konteks ini, kalimat (1) dan (2) tidak atau kurang sopan diucapkanoleh orang yang lebih muda, tetapi kalimat (4)-lah yang sepatutnya diucapkan jika penuturnya ingin memperlihatkan kesantunan. Kalimat (3) lazim diucapkan kalau penuturnya kurang akrab dengan orang yang disapanya, walaupun lebih patut penggunaan kalimat (4).
Percakapan yang tidak menggunakan kata sapaan pun dapat mengakibatkan kekurangsantunan bagi penutur. Percakapan via telepon antara mahasiswi dan istri dosen berikut merupakan contoh kekurangsopanan.
Mahasiswi : Halo, ini rumah Supomo, ya?
Istri : Betul.
Mahasiswi : Ini adiknya, ya?
Istri : Bukan, istrinya. Ini siapa?
Mahasiswi : Mahasiswinya. Dia kan dosen pembimbing saya. Sudah janjian dengan saya di kapus. Kok saya tunggu-tunggu tidak ada.
Istri : Oh, begitu, toh.
Mahasiswi : Ya, sudah, kalau begitu.
(Telepon langsung ditutup.)
Istri dosen tersebut menganggap bahwa mahasiswa yang baru saja bertelepon itu tidak sopan, hanya karena si mahasiswa tidak mengikuti norma kesantunan berbahasa, yaitu tidak menggunakan kata sapaan ketika menyebut nama dosennya. Bahasa mahasiswa seperti itu bisa saja tepat di masyarakat penutur bahasa lain, tetapi di masyarakat penutur bahasa Indonesia dinilai kurang (bahkan tidak) santun. Oleh karena itu, pantas saja kalau istri dosen tersebut muncul rasa jengkel setelah menerima telepon mahasiswi itu. Ditambah lagi tatacara bertelepon mahasiswi yang juga tidak mengikuti tatakram, yaitu tidak menunjukkan identitas atau nama sebelumnya dan diakhiri tanpa ucapan penutup terima kasih atau salam.
Tujuan utama kesantunan berbahasa adalah memperlancar komunikasi. Oleh karena itu, oemakaian bahasa yang sengaja dibelit-belitkan, yang tidak tepat sasaran, atau yang tidak menyatakan yang sebenarnya karena enggan kepada orang yang lebih tua juga merupakan ketidaksantunan berbahasa. Kenyataan ini sering dijumpai di masyarakat Indonesia kaena terbawa oleh budaya "tidak terus terang" dan menonjolkan perasaan. Dalam batas-batas tertentu masih bisa ditoleransi jika penutur tidak bermaksud mengaburka komunikasi sehingga orang yang diajak berbicara tidak tahu apa yang dimaksudkannya.
Aspek-aspek Non-linguistik yang Mempengaruhi Kesantunan Berbahasa
Karena tatacara berbahasa selalu dikaitkan dengan penggunaan bahasa sebagai sistem komunikasi,maka selain unsur-unsur verbal, unsur-unsur nonverbal yang selalu terlibat dalam berkomunikasi pun perlu diperhatikan. Unsur-unsur nonverbal yang dimaksud adalah unsur-unsur paralinguistik, kinetik, dan proksemika. Pemerhatian unsur-unsur ini juga dalam rangka pencapaian kesantunan berbahasa.
Paralinguistik berkenaan dengan viri-ciri bunyi seperti suara berbisik, suara meninggi, suara rendah, suara sedang, suara keras, atau pengubahan intonasi yang menyertai unsur verbal dalam berbahasa. Penutur mesti memahami kapan unsur-unsur ini diterapkan ketika berbicara dengan orang lain kalau ingin dikatakan santun. Misalnya, ketika ada seorang penceramah berbicara dalam suatu seminar, kalau peserta seminar ingin berbicara dengan temannya, adalah santun dengan cara berbisik agar tidak mengganggu acara yang sedang berlangsung; tetapi kurang santun berbisik dengan temannya dalam pembicaraan yang melibatkan semua peserta karena dapat menimbulkan salah paham pada peserta lain. Suara keras yang menyertai unsur verbal penutur ketika berkomunikasi dengan atasannya bisa dianggap kurang sopan, tetapi hal itu dapat dimaklumi apabila penutur berbicara dengan orang yang kurang pendengarannya.
Gerak tangan, anggukan kepala, gelengan kepala, kedipan mata, dan ekspresi wajah seperti murung dan senyum merupakan unsur kinesik (atau ada yang menyebut gesture, gerak isyarat) yang juga perlu diperhatikan ketika berkomunikasi. Apabila penggunaannya bersamaan dengan unsur verbal dalam berkomunikasi, fungsinya sebagai pemerjelas unsur verbal. Misalnya, seorang anak diajak ibunya ke dokter, ia menjawab "Tidak, tidak mau" (verbal) sambil menggeleng-gelengkan kepala (kinesik). Akan tetapi, apabila penggunaannya terpisah dari unsur verbal, fungsinya sama dengan unsur verbal itu, yaitu menyampaikan pesan kepada penerima tanda. Misalnya, ketika bermaksud memanggil temannya, yang bersangkutan cukup menggunakan gerak tangan berulang-ulang sebagai pengganti ucapan "Hai, ayo cepat ke sini!".
Sebenarnya banyak gerak isyarat (gesture) digunakan secara terpisah dengan unsur verbal karena pertimbangan tertentu. Misalnya, karena ada makna yang dirahasiakan, cukup dengan mengerdipkan mata kepada lawan komunikasi agar orang di sekelilingnya tidak tahu maksud komunikasi tersebut. Seorang ayah membentangkan jari telunjuk secara vertikal di depan mulut agar anaknya (penerima tanda) segera diam karena sejak tadi bercanda dengan temannya saat khutbah Jumat berlangsung. Masih banyak contoh lain yang bisa diketengahkan berkaitan dengan kinetik ini. Namun, yang perlu diperhatikan dalam konteks ini adalah kinetik atau gerak isyarat (gesture) dapat dimanfaatkan untuk menciptakan kesantunan berbahasa, dan dapat pula disalahgunakan untuk menciptakan ketidaksantunan berbahasa. Ekspresi wajah yang senyum ketika menyambut tamu akan menciptakan kesantunan, tetapi sebaliknya ekspresi wajah yang murung ketika berbicara dengan tamunya dianggap kurang santun.
Unsur nonlinguistik lain yang perlu diperhatikan ketika berkomunikasi verbal adalah proksemika, yaitu sikap penjagaan jarak antara penutur dan penerima tutur (atau antara komunikator dan komunikan) sebelum atau ketika berkomunikasi berlangsung. Penerapan unsur ini akan berdampak pada kesantunan atau ketidaksantunan bwerkomunikasi. Ketika seseorang bertemu dengan teman lama, setelah beberapa lama berpisah, ia langsung berjabat erat dan bernagkulan; dilanjutkan dengan saling bercerita sambil menepuk-nepuk bahu. Tetapi, ketika ia bertemu dengan mantan dosennya, walaupun sudah lama berpisah, ia langsung menundukkan kepala sambil bwrjabat tangan dengan kedua tangannya. Si mantan dosen, sambil mengulurkan tangan kannya, tangan kirinya menepuk bahu mahasiswa yang bersangkuan.
Pada contoh kedua peristiwa itu, terlihat ada perbedaan jarak antara pemberi tanda dan penerima tanda. Apabila penjagaan jarak kedua peristiwa itu dipertikarkan,maka akan terlihat janggal, bahkan dinilai tidak sopan. Mamsih banyak contoh lain yang berkaitan dengan proksemika ini, misalnya sikap dan posisi duduk tuan rumah ketika menerima tamu, posisi duduk ketika berbicara dengan pimpinan di ruang direksi, sikap duduk seorang pimpinan ketika berbicara di hadapan anak buahnya, dan sebagainya. Yang jelas, penjagaan jarak yang sesuai antara peserta komunikasi akan memperlihatkan keserasian, keharmonisan, dan tatacara berbahasa.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa unsur paralinguistik, kinetik, dan prolsemika yang sesuai dengan situasi komunikasi deperlukan dalam penciptaan kesantunan berbahasa. Pengaturan ketiga unsur ini tidak kaku dan absolut karena berbeda setiap konteks situasi. Yang penting, bagaimana ketiga unsur bisa menciptakan situasi komunikasi yang tidak menimbulkan salah paham dan ketersinggungan kepada yang diajak berkomunikasi.
Selain ketiga unsur di atas, hal lain yang perlu diusahakan adalah penjagaan suasana atau situasi komunikasi oleh peserta yang terlibat. Mialnya, sewaktu ada acara yang memerlukan pembahasan bersama secara serius, tidaklah sopan menggunakan telepon genggam (handphone) atau menerima telepon dari luar, apalagi dengan suara keras. Kalau terpaka menggunakan atau menerima telepon, sebaiknya menjauh dari acara tersebut atau suara diperkecil.
Kecenderungan mendominasi pembicaraan, berbincang-bincang dengan teman sebelah ketika ada pertmuan dalam forum resmi, melihat ke arah lain dengan gaya melecehkan pembicara, tertawa kecil atau sinis merupakan sebagian cara yang tidak menjaga suasana komunikasi yang kondusif, tenteram, dan mengenakkan, yang bisa berakibat mengganggu tujuan komunikasi.
METODE PENELITIAN
Rancangan Penelitian
Dalam penelitian ini akan dideskripsikan fenomena-fenomena penggunaan bahasa yang muncul dalam percakapan …….. Fenomena yang menjadi fokus penelitian ini adalah topik percakapan, struktur percakapan, dan strategi kesantunan berbahasa.
Data dan Sumber Data
Data penelitian ini adalah satuan-satuan percakapan antara …………………. di Surabaya yang dipilah-pilah lagi oleh peneliti dan juga menjadi fokus pada penelitian ini adalah (1) topik percakapan, (2) Struktur percakapan, (3) strategi kesantunan berbahasa.
Sumber data penelitian ini adalah ……….. yang menyiarkan program …….
Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode simak dengan teknik rekam. Alat perekam yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah telepon genggam yang difasilitasi alat perekam. Teknik ini digunakan untuk pengumpulan data berupa percakapan …………
Unutk merekam data tersebut, peneliti menggunakan satu buah telepon genggam merek Sony Ericsson tipe W200i yang dilengkapi dengan fasilitas alat perekam suara dengan kapasitas rekam sesuai dengan kapasitas memori m2. Diharapkan dengan penggunaan alat perekam tersebut dapat memudahkan peneliti dalam proses pengumpulan data dikarenakan tidak serumit tape-recorder yang menggunakan kaset sebagai tambahan alat untuk merekam.
Metode Analisis Data
Analisis data merupakan suatu proses mengorganisasikan dan mengkerucutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar, sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Selanjutnya akan dilakukan analisis dan interpretasi secara utuh dan menyeluruh mengarah ke fokus permasalahan yang dilakukan secara induktif.
Dengan menggunakan metode tersebut akan dideskripsikan dan dijelaskan secara detil fenomena-fenomena yang menjadi fokus penelitian. Adapun langkah-langkah analisis data dalam penelitian ini adalah:
1. Memilih rekaman percakapan yang mempunyai kualitas yang jelas.
2. Mendengarkan secara teliti dan berulang-ulang percakapan yang diteliti
3. Mentranskripsi percakapan
4. Melakukan pengkodean data
5. Melakukan segmentasi-segmentasi pada bagian-bagian tertentu sesuai dengan fokus penelitian
6. Melakukan identifikasi dan klasifikasi terhadap fenomena-fenomena yang ditemukan
7. Melakukan interpretasi dan penarikan simpulan
2. Pengodean Data
Pengodean data dalam penelitian ini akan menggunakan pedoman sebagai berikut
R.1.1.001
R = Sumber data: Radio Komunitas U-fm
1(1) = nomor urut data rekaman
1(2) = nomor urut penelpon
001 = nomor urut ujaran
3. Segmentasi Data
Segmentasi merupakan langkah dalam menganalisis teks sebagai rekaman verbal suatu tindak komunikasi dengan melakukan pemenggalan-pemenggalan pada bagian tertentu. Dalam penelitian ini, percakapan disegmentasikan berdasarkan partisipan dan topik percakapan terlebih dahulu. Kemudian pada penggalan percakapan yang telah dibatasi oleh topik-topik tertentu tersebut disegmentasikan kembali berdasarkan pasangan ujar terdekat. Berdasarkan hasil segmentasi yang kedua ini dapat diidentifikasi dan diklasifikasikan fenomena-fenomena yang berkaitan dengan struktur percakapan dan strategi kesantunan yang digunakan oleh partisipan.
4. Interpretasi dan Penarikan Simpulan
Peneliti berusaha mengidentifikasi daya pragmatik sebuah tuturan dengan merumuskan hipotesis-hipotesis dan kemudian mengujinya berdasarkan data-data yang tersedia. Bila hipotesis tidak teruji maka akan dibuat hipotesis yang baru. Seluruh proses ini terus berulang sampai akhirnya tercapai suatu pemecahan.
Daftar pustaka
Allen, Donald E & Rebecca F. Guy. 1974. Conversational Analysis: The Sociology of Talk. Paris: Mouton
Brown, Gillian dan George Yule. 1996. Analisis Wacana.Penerjemah I. Soetikno. Jakarta: PT. Gramedia
Edward, John. 1985. language, Society, anda Identity. New York: Basil Blackwell.
Goody, Esther N (Ed.). 1985. Questions and Politiness: Strategy in Social Interaction. Cambridge.
Gordon, George N. 1969. The Languages of Communication. New York: Hasting House.
Hutchby, I., Wooffitt, R., 1998, Conversation Analysis, Cambridge, UK: Polity Press
Leech, Geoffery. 1993. Prinsip-prinsi Pragmatik. Penerjemah M.D.D. Oka. Jakarta: UI Press.
Nababan, PWJ. 1986. Sosiolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: PT Gramedia.
Salam, H Burhanuddin 1987. Etika Sosial: Asas Moral dalam Kehidupan Manusia. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Silzen, Peter. 1990. "Bahasa sebagai Ungkapan Perasaan". Makalah. Depok: Fakultas Sastra UI.
Syamsudin. 1992. Studi Wacana Teori Analisis Pengajaran. Bandung: Mimbar Pendidikan Bahasa dan Seni FPBS IKIP Bandung.
Wardhaugh, Renold. 1986. An Introduction to Sociolinguistics. New York: Basil Blackwell.
Jumat, 10 Juli 2009
Bagian dari proposal penelitian menyajikan sebuah desktipsi dari desain dan metode yang mempunyai tiga tujuan utama. Pertama, mempersiapkan sebuah rencana untuk pengadaan penelitian. Kedua, menunjukkan kepada para pembaca bahwa peneliti mampu mengadakan penelitian tersebut. Ketiga, untuk menyatakan kebutuhan dan strategi-strategi untuk menjaga fleksibilitas dari sebuah desain yang menjadi tanda atau trade mark dari metode penelitian kualitatif. Tujuan yang terakhir biasanya yang paling menantang.
Delapan topic utama dialamatkan pada bagian ini: (a) jenis kualitatif, strategi keseluruhan, dan rasionil; (b) pemilihan lokasi, pemilihan populasi, atau keduanya; (c) peran peneliti; (d) metode pengumpulan data; (e) manajemen data; (f) strategi penganalisisan data; (g) dapat dipercaya; dan (h) manajemen rencana dan garis waktu. Senada dengan hal ini adalah tantangan akan menunjukkan rencana yang jelas dan kongkrit, detail yang spesifik sementara memenej flexibilitas dalam implementasinya. Setelah membahas tantangan ini, kita mengarah ke yang pertama dari tiga topik. Bab 4 mendeskripsikan metode pengumpulan data, diikuti dengan sebuah diskusi dari strategi-strategi manajemen, penganalisisan, dan menginterpretasikan data di Bab 5. Karena memenej keseluruhan proses penelitian (menggunakan manajemen perencanaan dan waktu) dan dapat dipercaya membutuhkan pengelaborasian penuh.
Menemui Tantangan
Bagaimana agar para peneliti dapat mempertahankan kebutuhan akan fleksibilitas dari model, sehingga penelitian bisa “terbuka, muncul/timbul” dan masih mempersembahkan sebuah gagasan yang logis, ringkas dan memenuhi kriteria “mampu”? pada bagian metode penelitian seharusnya menunjukkan kepada pembaca tentang keseluruhan rencana dan menunjukkan bahwa peneliti berkompeten untuk menangani penelitian tersebut, mampu untuk memakai penyusunan metode, dan cukup mawas diri dan tertarik untuk menopang kesuksesan dari penelitian. Desain ini dan pertahanan peneliti akan hal itu harus berdiri untuk dipertanyakan. Lagipula, desainnya haruslah meyakinkan pihak pembaca bahwa peneliti mampu menangani sebuah proses yang kompleks dan personal, sering membuat keputusan-keputusan selama proses terbuka, mengalir, menggelinding, dan timbul.
Peneliti seharusnya mendemonstrasikan kepada pembaca bahwa dia berhak untuk memodifikasi desain aslinya sebagaimana penelitiannya berkembang; membangun fleksibilitas kedalam desain sangatlah krusial. Peneliti melakukannya dengan (a) mendemonstrasikan kelayakan kelogisan akan penggunaan metode kualitatif untuk rumusan masalah yang khusus, dan (b) membangun sebuah proposal yang didalamnya terdapat banyak elemen-elemen dari model-model tradisional. Didalam waktu yang sama, peneliti berhak untuk merubah rencana implementasi selama proses pengumpulan data. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, pada bagian ini dari sebuah proposal seharusnya mendiskusikan kerasionalan dan kelogisan dari jenis khusus kualitatif dimana penelitian diadakan, strategi keseluruhan, dan elemen-elemen desain yang spesifik. Pada saatnya, walau bagaimanapun, peneliti mungkin membutuhkan membenarkan atau memberikan alasan mengenai penelitian kualitatif secara umum, sebelum mensituasikan studi yang diajukan dalam sebuah jenis penelitian. Pertama kita akan berbicara kenyataan akan isu ini lalu fokus ke jenis-jenis dan pendekatan-pendekatan yang spesifik.
Menjelaskan Penelitian Kualitatif
Dalam beberapa tahun belakangan ini, nilai dan prestis dari penelitian kualitatif telah menguap di beberapa bidang. Masih saja, diberikan dominasi historis dari penelitian ilmu pengetahuan sosial oleh cara lama, model-model kuantitatif dan iklim konserfatif yang sekarang sedang berlangsung didalam pemerintahan federal, peneliti harus dengan baik mengembangkan sebuah penjelasan mengenai penelitian kualiatif pada umumnya. Untuk membuat hal tersebut terwujud, kekuatan dari metodologi penelitian kualitatif seharusnya diperkuat dengan mengelaborasikan nilai seperti yang terdapat pada studi-studi tersebut untuk tipe-tipe penelitian sebagai berikut (Linclon & Guba, 1985 Marshall, 1985a, 1987):
• Penelitian yang menilik tentang deskripsi cultural dan etnografi
• Penelitian yang mendatangkan konstruksi realita ganda, dipelajari secara holistic
• Penelitian yang mendatangkan pengetahuan terselubung dan pengertian subjektif dan interpretasi
• Penelitian yang menyelidiki di kedalaman sampai proses dan kompleksitas
• Penelitian pada fenomena yang jarang diketahui atau sistem-sistem inovatif
• Penelitian yang mencari untuk mengeksplorasi dimana dan mengapa kebijaksanaan dan pengetahuan dan kegiatan lokal dalam keadaan ganjil
• Penelitian pada hubungan informal dan tak terstruktur dan proses dalam organisai-organisasi
• Penelitian akan kenyataan, sebagaimana ditentang untuk dimunculkan, tujuan-tujuan organisasi
• Penelitian yang tidak dapat dilakukan secara eksperimen untuk alasan etik dan praktis
• Penelitian dengan variabel-variabel yang relevan yang belum diidentifikasi.
Dukungan lebih jauh ditemukan di banyak teks-teks pengantar yang bagus pada metode kualitatif yang mendeskripsikan karakteristik dan kekuatan dari metode kualitatif (lihat Bab 1). Mengarah pada sumber-sumber ini, peneliti mengajukan sebuah penelitian dalam sebuah seting khusus (misalnya, ruangan rumah sakit atau agensi pelayanan sosial) dapat berargumentasi bahwa kegiatan manusia sangat dipengaruhi oleh seting dimana mereka berada dan oleh karena itu diadakan studi mengenai realita kehidupan. Seting fisik dan sosial – jadwal, ruang, pembayaran, dan ganjaran – dan dugaan internalisasi dari norma-norma, tradisi, peranan, dan nilai adalah aspek penting dalam sebuah lingkungan. Demikian, untuk penelitian kualitatif, konteks menjadi masalah. Peneliti bisa berpendapat bahwa studi seharusnya dilakukan di seting dimana semua kompleksitas ini menjalankan kelebihan waktu dan dimana data pada versi-versi ganda dari realitas bisa dikumpulkan. Untuk sebuah penelitian yang berfokus dalam sejarah hidup individu, peneliti juga bisa berpendapat bahwa tingkah laku manusia tidak bisa dimengerti kecuali penetapan arti manusia dimengerti oleh mereka. Karena pola pikir, perasaan, kepercayaan, nilai, dan dunia asumtif ikut berpengaruh, peneliti harus mengerti lebih dalam mengenai perspektif yang dapat menangkap melampaui interaksi tatp muka.
Mengkritisi dan mendemonstrasikan batas-batas dari kuantitatif, pendekatan kaum positif bisa menjadi strategi yang cemerlang untuk menjelaskan kegunaan dari metode kualitatif. Peneliti mungkin lebih jauh akan mengkritik model eksperimental dengan mencatat bahwa pembuat kebijaksanaan dan praktisi-praktisi biasanya tidak mampu untuk mengambil arti dan penemuan yang bermanfaat dari penelitian yang eksperimental dan bahwa teknik penelitian itu sendiri telah mempengaruhi penemuan. Laboraorium, kuisoner, dan seterusnya telah menjadi benda hasil dari kecerdasan. Subjek yang juga mencurigakan dan berhati-hati atau mereka waspada akan apa yang diinginkan peneliti dan mencoba memuaskan mereka. Dan perneliti bisa mendeskripsikan cara-cara dimana kisah-kisah – naratif kompleks dari pengalaman hidup – ditutupi oleh metode kuantitatif atau lebih buruk lagi digantikan oleh mereka.
Pendeknya, kekuatan dari penelitian kualitatif seharusnya didemonstrasikan untuk penelitian yang eksplorator atau deskriptif dan yang menekankan akan pentingnya konteks, seting, dan kerangka referensi partisipan. Sebuah penjelasan yang sangat beralasan dan meyakinkan untuk metode kualitatif seharusnya memasukkan sebuah keringkasan tetapi memliki rasional yang kuat benar-benar dilakukan dengan kerangka kerja konseptual, dan untuk metode pengumpulan data yang spesifik. Rasionalisasi seharusnya menunjukkan bagaimana pemilihan dari metode mengalir dari rumusan masalah. Seperti dua contoh ini yang mengilustrasikan hal tersebut. Untuk studi etnografi milik Glazier (2004) yaitu pada kemampuan kerja kolaboratif dari guru Arab dan Yahudi di Israel untuk pengaruh pemahaman terhadap yang lainnya, argumentasi yang memaksa yaitu mengenai triangulasi dari data kualitatif yang memperbolehkan perspektif ganda. Mishna (2004) juga menunjukkan argumen yang kuat bahwa sebuah studi yang menggunakan interview dengan anak-anak dan para orangtua mengenai kenakalan membutuhkan sebuah metodologi kualitatif untuk menangkap konteks, interpretasi pribadi, dan pengalaman. Sebagaimana Mishna menunjukkan,
Data kualitatif ....... mempunyai hak-hak istimewa mengenai sejarah hidup individual ...... memperluas pemahaman kita terhadap sudut pandang dari anak-anak dan dewasa adalah kunci untuk mengembangkan pencegahan yang efektif ..... anehnya kita mengetahui sedikit mengenai dinamika dari hubungan kenakalan sekolah ...... hal ini sangat vital untuk mengetahui perspektif anak-anak ketika mencoba untuk mengidentifikasi proses yang mengikutsertakan dalam hubungan problematik sebaya. (p.235)
Amati bagaimana peneliti ini mempersembahkan diawal mengenai apa yang telah diketahui, lalu apa yang masih dibutuhkan, lalu mengapa topik ini membutuhkan pendekatan kualitatif.
Genre Kualitatif dan Pendekatan Penelitian
Walaupun penerimaan terhadap penelitian kualitatif sekarang ini tersebar luas, di mana suatu studi diposisikan. Banyak tradisi yang bernuansa penelitian kualitatif dapat digolongkan menjadi (a) pengalaman hidup individu (b) masyarakat dan budaya (c) bahasa dan komunikasi. Argumentasi yang paling memaksa menekankan pada keunikan dari genre untuk penelitian adalah penyelidikan atau deskriptif, yang menerima nilai dari konteks dan setting, dan pencarian itu adalah untuk pemahaman yang lebih dalam mengenai pengalaman hidup partisipan sebagai fenomena dalam penelitian. Satu asmusi yang umum untuk semua jenis adalah pengekspresian maksud masyarakat mengenai beberapa aspek dari kehidupan mereka. Dibawah ini, proposisi klasik milik Thomas (1949) bahwa, dalam studi mengenai pengalaman hidup manusia sangatlah penting untuk mengetahui bagaimana masyarakat mendefinisikan situasi mereka: “jika manusia (sic) mendefinisikan situasi sebagai kenyataan, maka mereka nyata dalam konsekuensi mereka.” (p.301). Menjelaskan kelogisan dan hubungan-hubungan paksaan – integritas epistimologi – diantara jenis, strategi keseluruhan, rumusan masalah, desain, dan metode seringnya cukup meyakinkan.
Strategi Keseluruhan
Kesempurnaan dan keaneka ragaman dari strategi disain dalam penelitian kualitatif adalah jelas dalam studi spesifik literatur. Analisa mengenai kesempurnaan ini menghasilkan tiga strategi yang berbeda, masing-masing berhubungan dengan genre seperti yang sudah disebutkan tadi ( lihat tabel 3.1). Suatu studi yang memusatkan pada pengalaman hidup individu memiliki tipikal bersandar pada suatu strategi wawancara mendalam. Walaupun mungkin dilampirkan dengan jurnal yang ditulis oleh partisipan atau format data lainnya, strategi utama berfungsi untuk menangkap maksud/arti yang mendalam dari pengalaman yang dimiliki partisipan. Studi yang memusatkan pada masyarakat sosial dan budaya di dalam suatu kelompok, suatu program, atau suatu organisasi yang secara khas menyertai format beberapa studi kasus sebagai strategi. Penelitian yang fokusnya pada bahasa dan komunikasi memiliki tipikal memakai mikroanalisis atau analisis tekstual meliputi tuturan, dan teks yang kemudian direkam (seringnya menggunakan video) lalu dianalisis. Langsung dihubungkan dengan jenis kuantitatif dan rumusan masalah, setiap strategi menetapkan fokus dari penelitian (individual, kelompok, interaksi) dan pendekatan keseluruhan sampai pnegumpulan data.
Berbedaan antara tiga strategi yang luas ini menyisakan akan dua kelanjutan: kompleksitas dari desain dan tingkatan dari interaksi jarak dekat diantara peneliti dan partisipan. Dalam wawancara mendalam, strategi adalah elegan dalam desain, mengandalkan pada satu metode primer untuk pengumpulan data.
Table 3.1
Genre Strategi Utama Fokus Penelitian
Pengalaman hidup Interview mendalam Individual
Sosial dan budaya Studi kasus Kelompok atau organisasi
Bahasa dan komunikasi Mikroanalisis atau teks analisis Interaksi dan tuturan
Dalam mempertajam penelitian, peneliti kualitatif menetapkan fokus. Dalam penelitian kualitatif, pnentuan fokus dalam proposal lebih didasarkan pada tingkat kebaruan informasi yang akan diperoleh dari situasi sosial (lapangan). Kebaruan informasi itu bisa berupa upaya untuk memahami secara lebih luas dan mendalam tentang situasi sosial, tetapi juga ada keinginan untuk menghasilkan hipotesis atau ilmu baru dari situasi sosial yang diteliti.
Strategi adalah sebuah petunjuk jalan, sebuah rencana untuk menjalankan sebuah eksplorasi yang sistematis dari fenomena yang dianggap menarik, sedangkan metode penelitian adalah alat yang spesifik untuk melaksanakan eksplorasi. Dalam wawancara mendalam strategi menetetapkan sebuah metode primer untuk pnegumpulan data – proses wawancara. Dalam studi kasus dan mikroanalisis, kombinasi dari metode-metode ditujukan untuk merespon rumusan masalah dalam penelitian mungkin akan kompleks. Sebuah studi kasus yaitu akibat reformasi kesejahteraan, misalnya, dapat mengandalkan pada sebuah kesatuan metode-metode, menyusun dari wawancara mendalam sampai analisis pengalaman kerja. Sebuah studi mikroanalisis dari interaksi kelas mugkin memilih observasi langsung (melalui rekaman video) disuplementasi oleh wawancara analisis tugas murid. Strategi dapat menyusun studi dengan menempatkan batasan-batasan disekitarnya, mengidentifikasi fokus analisa. Strategi peneliti adalah sebuah produk dari keputusan utama yang dibuat oleh peneliti untuk menunjukkan akan pendekatan terbaik untuk menjawab pertanyaan yang diajukan dalam proposal penelitian.
Dalam pengembangan strategi, peneliti perlu mempertimbangkan ketercukupan informasi dan efisiensi (Zelditch, 1962) dan sebuah kesatuan dari pertimbangan yang pantas. Untuk melihat kecukupan strategi, tanyakan apakah desain penelitian ini dapat dipakai tanpa membahayakan masyarakat atau secara signifikan mengacaukan seting. Tanyakan apakah ini sepertinya akan membantu respon-respon untuk rumusan masalah secara terus menerus dan benar-benar dipikirkan.
Gambar 3.1. Kompleksitas dari Desain dan Interaksi
Wawancara mendalam Mikroanalisis Studi Kasus
Simpel Kompleksitas dari Desain
Kompleks
Dekat dan Personal Tingkatan dari Interaksi
Menyebar
Untuk menunjang argumentasi dan rasionalisasi untuk sebuah jenis dan strategi, diskusi dari studi seorang penerbang bisa menjadi cukup penting. Ketika peneliti menyatakan bahwa dia mampu untuk melaksanakan penelitian yang telah diajukan dan memperlihatkan sebuah deskripsi dan penaksiran dari sebuah studi kualitatif pilot dengan intrik persiapan data, orang-orang yang ragu biasanya terbujuk. Sebagaimana Sampson (2004) memberi catatan,
Sementara pilot bisa digunakan untuk menyaring instrumen-instrumen seperti kuisoner dan jadwal wawancara, mereka memiliki kegunaan yang lebih bagus masih dalam pendekatan etnografis sampai pengumpulan data dalam membayangkan permasalah penelitian dan rumusan masalah, dalam menyoroti jenjang dan apa yang dibuang di dalam pengumpulan data, dan dalam mempertimbangkan isu-isu yang lebih luas seperti validitas penelitian, etika, representasi, dan keselamatan dan kesehatan peneliti. (p.383)
Wawancara pandu akan membantu dalam memahami diri sendiri sebagai seorang peneliti. Dalam penelitiannya yaitu ketakutan dari pekerja sosial, Smith (1999) menunjukkan bagaimana panduan membantu menghilangkan batasan seperti ketergantungan akan alat perekam dan kecurigaan mengenai agenda peneliti.
Bahkan tanpa sebuah studi pilot, peneliti bisa mendemonstrasikan observasi atau wawancara. Pengalaman ini biasanya mengungkapkan pertanyaan yang mengagumkan dan pola yang membangkitkan minat. Sebuah deskripsi observasi awal menunjukkan tidak hanya suatu kemampuan untuk memenej penelitian ini tetapi juga kekuatan dari jenis tersebut untuk membangkitkan rumusan masalah. Demikian, deskripsi dari sebuah studi pilot atau observasi awal memperkuat sebuah proposal penelitian.
Sebagai tambahan untuk mengembangkan genre dan strategi yang kuat, proposal dalam bagian ini seharusnya memperhatikan hak-hak untuk memodifikasi aspek-aspek dari desain pada saat proses penelitian dilaksanakan. Investigasi awal dari sebuah fenomena dapat juga menunjukkan keuntungan dari menjaga fleksibilitas. Geer (1969) mengemukakan apa yang seharunya dilakukan peneliti pada saat pertama kali, dia mendeskripsikan bahwa peneliti kualitatif harus turun langsung di dalam setting penelitian, dimulai dengan beberapa konsep analitis yang sebelumnya sudah diidentifikasi pada penelitian sebelumnya, dibimbing oleh kerangka kerja teoritis dan berhubungan dengan rumusan masalah. Hal-hal tersebut membantu para peneliti untuk menentukan situasi yang seperti apa yang akan diobservasi, siapa yang akan diwawancarai, dan apa yang akan ditanyakan. Peneliti harus membangun kebutuhan dan hak untuk menentukan fokus penelitian setelah pertama kali mereka terjun ke lapangan.
Salah satu tujuan dari desain penelitian adalah untuk menunjukkan bahwa peneliti mampu mengadakan penelitian kualitatif. Materi-materi dari pelajaran metodologi kualitatif atau dari bahan baca individu akan menunjukkan kekayaan dan kutipan yang layak dari pekerjaan peneliti. Hal ini ditujukan semata bukan untuk membuat pembaca terkesan dengan kutipan-kutipan yang ada, namun hal ini ditujukan untuk menyajikan bukti yang solid atau kuat bahwa peneliti telah masuk kedalam perbincangan kritis mengenai metodologi. Hal ini untuk menunjukkan sebuah pengetahuan mengenai historis dan keberlanjutan wacana metodologi mengenai penelitian kualitatif dan jenis yang spesifik dimana studi tersebut disituasikan. Kutipan-kutipan tersebut meletakkan studi seseorang dalam sebuah tradisi yang establis dari metodologi penelitian. Sebuah peningkatan jumlah pada peneliti telah memberikan deskripsi dari rasionalisasi untuk pengembangan desain penelitian; baik klasik dan pekerjaan yang lebih baru direkomendasikan pada bagian akhir bab ini. Hal-hal yang memberikan apendiks-apendiks pada metodologi khususnya yang berguna.
Refleksi pada identitas seseorang dan perasaan seseorang dari ujaran dan perspektif dan mempertimbangkan asumsi-asumsi dan sensitivitas adalah kunci untuk sebuah diskusi dari pilihan peneliti akan rumusan masalah dan peran peneliti. Skema yang ditunjukkan pada gambar no 3.2 sangat menggambarkan jenjang pertanyaan yang untuk dipertimbangkan, baik untuk proposal atau laporan akhir penelitian.
Segera sesudah pendekatan keseluruhan dan rasional yang mendukung telah diberikan, kerangka proposal, seting atau populasi dari ketertarikan dan rencana-rencana untuk sampel yang lebih spesifik dari masyarakat, tempat, dan kejadian. Kerangka ini menyediakan pembaca dengan sebuah pemikiran dari
Gambar 3.2
Reflexive Questions:
Triangulated Inquiry
Those Those
studied receivi receiving the
(participants): study (audience):
How do they How do they
know what they make sense of what
know? What shapes I give I give them? What
and has shaped their perspect perspectives do they bring
worldview? How do they to the findings I offer?
perceive me? Why? How How do they perceive me?
do I know? How do I perceive How do I perceive them?
them?
Myself:
(as qualitative inquirer):
What do I know?
How do I know what I know?
What shapes and has shaped my perspective?
With what voice do I share my perspective?
What do I do with what I have found?
skup penelitian yang telah diajukan dan apakah intensitasnya, jumlahnya, dan kekayaan dari datanya yang akan mendorong respon penuh kepada rumusan masalah. Peneliti boleh merencanakan sebuah bagan yang menunjukkan eksplorasi pada pertanyaan, seting yang potensial, dan strategi pengumpulan data yang spesifik untuk menunjukkan kelogisan dari desain penelitian. Untuk tambahan, proposal seharunya ditujukan mengenai peran peneliti, termasuk (a) entry, timbal balik, dan kelayakan; (b) tekhnik pengkoleksian data yang terencana; (c) bagaimana data akan direkam dan diatur; (d) strategi-strategi persiapan untuk data analisis; (e) fitur-fitur desain untuk jaminan bahwa penelitian dapat dipercaya dan (f) pengaturan rencana dengan pencantuman waktu kapan studi dilakukan dan laporan akhir dari penelitian.
Pada bagian desain penelitian menggambarkan bukti-bukti yang mendukung untuk keputusan-keputusan dari kutipan yang relevan dari para peneliti yang telah menulis tentang isu-isu ini, dengan demikian akan menghilangkan ketakutan yang memunculkan dilema di lapangan akan menjadi tidak teratur. Contohnya, untuk menjelaskan etika peneliti dengan mempertimbangkan partisipan, pengalaman dari Krieger (1985) yang mempelajari komunitas lesbian adalah berguna dan memaksakan. Atau peneliti dapat mengutip Chaudhry (1997) mencontohkan menangani peranan yang kompleks yang membawa dilema seperti yang telah distudikan di imigran muslim di Pakistan. Peneliti bisa menggunakan konsep dari kerangka kerjanya konseptualny sendiri dan kutipan dari pertimbangan literaturnya untuk menganjurkan kemungkinan kategori atau tema untuk data analisis.
Pada akhirnya, jika mungkin, hal ini berguna untuk memasukkan sebuah daftar dari pendahuluan atau pertanyaan wawancara yang tentatif sebagaimana dalam kategori observasi dan pengkodean. Banyak subjek yang menggunakan manusia meninjau komite di universitas membutuhkan ini. Agensi dana akan menemukan taksiran mengenai kualitas dari proposal. Hal-hal ini bisa dikembangkan dari sebuah studi pilot atau dari tinjauan literature. Seperti sebuah kerangka yang mendemonstrasikan bahwa peneliti mempunyai kemampuan untuk membuat hubungan diantara konsep-konsep yang membuat peka, dari tinjauan literatur sampai desain penelitian. Juga menggaris bawahi bahwa peneliti mengerti bagaimana memulai untuk mengumpulkan data sebagaimana studi dimulai dan bahwa dia memiliki pendekatan awal untuk menganalisa data. Seperti yang diilustrasikan pada Vignette 6 yang diambil dari penceritaan milik Basit (2003) tentang rencana untuk analisis data dalam studinya dari aspirasi perempuan muslim di Britania:
Vignette 6
Mengantisipasi Kategori Pengkodean Awal
Mengantisipasi yang susah, belum adanya kreativitas, proses dinamis dari alasan induktif, pemikiran, dan teorisasi, Tehima Basit menhetahui bahwa perencanaan awal untuk pengkodean data adalah hal yang penting. Dia membaca semua peringatan-peringatandan saran dari Miles (1979), Gough dan Scott (2000), dan Delamont (1992), yang mengingatkan untuk menghindari jalan pintas. Sebagaimana dia sudah mempersiapkan untuk mendeskripsikan bagaimana dia akan menanganinya ”kondensasi data” dan ”distilasi data” (Tesch, 1990), dia tahu dia harus menyuguhkan beberapa contoh kongkrit mengenai bagaimana proses berlangsung. Dia mengingatkan bahwa ”nama-nama kategori bisa datang dari kumpulan konsep dimana peneliti sudah memilikinya dari kedisiplinan dan keprofesionalisasian membaca, atau meminjam dari literatur teknis, atau merupakan kata-kata dan frase-frase yang digunakan oleh informan sendiri” (Basit, 2003 p.144). Dari wawancaranya dengan perempuan remaja, orangtua, dan guru-guru, dia mendapatkan 67 kode dan tema: etnisitas, bahasa, kebebasan, kontrol, gender, pola-pola keluarga, pernikahan dan karir, pendidikan lanjut, tugas, aspirasi yang tidak realistis, dan seterusnya. Dengan hal-hal tersebut sebagai awal, dia mengarah kepada tinjauan literaturnya untuk konsep untuk mendapatkan hubungan yang lebih dalam. Demikian, pengembangan kategori pengkodeannya telah dikembangkan dari tinjauan literaturnya tetapi juga datang dari wawancara dimana memberikan konteks dan cara-cara dari pengubahan, dan penyaringan tema.
Pencelupan kedalam pengumpulan dan analisis data dengan pemikiran yang bagus dari tema awal dan dengan pemikiran yang kuat untuk kebutuhan akan nilai yang tidak terstruktur, non-numerik yang merupakan sifat dari data kualitatif yang disuguhkan oleh Basit (dan peninjaunya) dengan kebutuhan akan petunjuk dan penentraman. Dengan percaya diri, dia menjawab pertanyaan-pertanyaan, bagaimana memenej data yang sangat besar? Dan pada bagian mana tinjauan literaturmu merangkai analisismu?
Salah satunya harus disertai dengan pernyataan yang bagus mengenai pendekatan keseluruhan di dalam proposal. Segera sesudah hal ini dibangun, proposal dilanjutkan dengan lebih memfokuskan mengenai keputusan desain.
Setting, Lokasi, Populasi, atau Fenomena
Kecuali jika sebuah studi diterangkan secara sempit, para peneliti tidak dapat mempelajari semua keadaan, kejadian, atau masyarakat secara mendalam. Akan tetapi, mereka memilih sampel-sampel sebagai bahan acuan yang paling fundamental dalam mendesain study dan menjadikannya pembimbing bagi peneliti. Akhir-akhir ini, keputusan yang signifikan membentuk secara keseluruhan dan seharusnya secara jelas dideskripsikan dan dijelaskan.
Beberapa penelitian telah menentukan tempat dengan spesifik. Contohnya, penelitian yang menanyakan, dengan proses apa program studi wanita mejadi penggabungan kedalam universitas? Harus fokus pada seting dimana penelitian ini dilaksanakan. Sebaliknya, penelitian yang menanyakan, dengan proses apa yang dilakukan unit inovatif menjadi penggabungan menjadi organisasional pendidikan? Mempunyai sebuah pilihan dalam banyaknya tempat dan banyaknya program substantif yang berbeda. Pertanyaan seperti, dengan proses apa sukarelawan Peace Corps mampu untuk mempengaruhi perkembangan kesehatan jangka panjang dalam komunitas? Bisa dikejar di banyak tempat dipenjuru dunia.
Keputusan untuk fokus dalam seting yang spesifik (misalnya, Program Studi Perempuan di University of Massachusetts atau geng jalanan di Cincinati) adalah sesuatu yang agak memaksa; studi itu ditegaskan oleh dan dengan baik sekali dihubungkan dengan tempat itu. Memilih untuk mempelajari sebuah jenis populasi khusus (fakultas di program studi wanita atau geng jalanan) adalah sesuatu yang kurang: studi ini bisa dilakukan di lebih dari satu tempat. Mempelajari sebuah fenomena (sosialisasi dari fakultas baru) bahkan sesuatu yang sedikit paksaan oleh baik tempat maupun populasi. Dalam contoh yang terakhir ini, peneliti memutuskan sebuah strategi sampling yang sangat bertujuan dan representatif.
Jika studi tersebut mengenai program yang spesifik, organisasi, tempat, atau daerah, beberapa detail yang mengenai tempat adalah sesuatu yang krusial bagi para pembaca. Rasionalisasi seharusnya juga disediakan di kerangkanya untuk menunjukkan mengapa seting yang spesifik ini lebih pantas daripada yang lain untuk studi tersebut. Apa yang unik? Karakteristik apa dari seting yang memaksakan dan biasa? Membenarkan yang terakhir dan keputusan yang benar-benar signifikan.
Bagaimana kalau penelitian dengan setingmu sendiri? Sementara akses yang mengarah ke tempat adalah otomatis semenjak kamu adalah orang asli dari tempat itu, pertimbangan-pertimbangan dibawah ini diasosiasikan dengan akses tersebut: ekspektasi dari peneliti berdasarkan kefamiliaran dengan seting dan masyarakatnya; transisi dari peneliti dimana mempunyai peranan yang lebih familiar dengan setingnya, dilema politika dan etika; resiko dari tidak menutupi rusaknya pengetahuan yang potensial; berjuang dengan kedekatan dan ketertutupan (Alvesson, 2003). Ada juga aspek-aspek positif: relatif mempunyai akses yang meudah dengan partisipan; mengurangi pengeluaran waktu untuk aspek khusus dari pengumpulan data; lokasi yang mudah untuk penelitian; ada potensi untuk membangun hubungan kepercayaan; dan, seperti yang diutarakan oleh Kanuha (2000), ”being drawn to study ’my own kind” (p.441). Kedekatan dengan masyarakat dan fenomena yang terjadi melalui interaksi menyebabkan pemahaman yang subjektif yang bisa berkembang hebat akan data kualitatif (Toma, 2000). Tempat yang realistis adalah dimana (a) judul itu mungkin, (b) ada kemungkinan yang tinggi mengenai banyak proses pencampuran, program, interaksi, dan sturktur ketertarikan yang sekarang, (c) peneliti sepertinya mampu untuk membangun hubungan kepercayaan dengan partisipan di dalam studi, (d) studi dapat dilakukan dan dilaporkan secara etis, dan (e) kredibilitas dan kualitas data penelitian secara beralasan terjamin. Walaupun idealisnya hal ini jarang sekali tercapai, meskipun proposal mendeskripsikan mengenai apa yang membuat pemilihan dari tempat yang istimewa disuarakan khususnya. Tempat bisa menjadi representasi yang sempurna dan menarik dan untuk menyediakan jangkauan dari contoh fenomena dimana studi dilaksanakan, tetapi jika peneliti tidak dapat mencapai akses ke dalam tempat atau ke tingkatan kelompok dan aktivitas didalamnya, maka studi tersebut tidak akan sukses. Demikian juga, jika penliti merasa sangat tidak nyaman atau membahayakan di dalam tempat ini, atau proses pengumpulan data atau penemuan dari penelitian akan membawa dampak yang bahaya, maka tempat tersebut menjadi beresiko dan proses penelitian akan menjadi terhambat.
Seseorang tidak dapat meneliti alam semesta – segalanya, tempat manapun, kapanpun. Malahan, peneliti membuat seleksi dari tempat dan sampel dari waktu, tempat, masyarakat, dan sesuatu untuk dipelajari. Ketika fokus penelitian adalah populasi tertentu, peneliti harus memberikan sebuah strategi untuk mengambil sampel pada populasi tersebut. Contohnya, didalam studinya yaitu penghentian paksaan dari psikoterapi, strategi milik Kahn (1992) adalah untuk memasang catatan-catatan di dalam komunitas lokal yang menanyakan mengenai partisipan. Kebanyakan diskusi terjadi pada pemeriksaan proposalnya mengenai kemungkinan yang terjadi pada strategi ini. Memberikan jaminan mengenai pengumpulan partisipan menggunakan metode ini sebelumnya, komite setuju; strategi sangat sukses diterapkan.
Menggunakan sampel dalam penelitian kualitatif tergantung beberapa faktor yang kompleks. Studi kasus bisa jadi cuman seorang, seperti contoh klasik The Man in The Principal’s Office (Wolcott, 1973), peranan, interaksi, dan perasaan dalam sebuah bar, seperti The Cocktail Waitress (Spradley & Mann, 1975). Dalam penelitian kesehatan (yang sepertinya didanai dengan baik), kualitatif akhir-akhir ini atau studi metode campuran merata-ratai menggunakan satu sampai empat informan. Sepuluh kelompok adalah jumlah rata-rata dalam fokus kelompok, 16 sampai 24 bulan untuk pekerjaan lapangan adalah angka yang normal dalam studi observasi (Safman & Sobal, 2004). Ambiguous Empowerment: The Work Narratives of Women School Superintendents (Chase, 1995) didasarkan dari 92 rekaman wawancara dengan pembuat kebijakan, pemilihan konsultan, anggota dewan sekolah, dan pengawas, sebagaimana observasi dalam seting pekerjaan.
Sementara pendanaan dan pemaksaan waktu mempengaruhi jumlah dari sampel, akan menitik beratkan dan mempertimbangakan pada pertanyaan dari tujuan penelitian. Sebuah budaya dan profesi yang tidak diketahui dipelajari dalam over time may be composed of one case study or ethnography. Sebuah penelitian mengenai daya tangkap ibu baru untuk melatih pemberian ASI bisa menjadi sampel yang besar, didalam kesatuan yang sangat besar dari seting, dengan pendanaan yang bagus dan tim penelitian dalam jumlah yang besar. Sebuah contoh kecil akan sangat berguna dalam mempertebal deskripsi cultural. Sampel yang besar didalam perbedaan dan seting yang bervariasi dengan partisipan yang berbeda akan juga bisa terlihat sebagai poin yang berguna semenjak transferabilitasnya akan menjadi hebat.
Didalam proposal, peneliti harus mengantisipasi pertanyaan mengenai kredibilitas dan kepercayaan akan penemuan; pemilihan sampel yang buruk; keputusan yang akan mengancam penemuan. Untuk menjelaskan sebuah sampel, seseorang harus mengetahui keuniversalitasan akan kemungkinan sampel dan keseluruhan dari variabel-variabel mereka yang relevan. Semenjak hal ini adalah sebuah pekerjaan yang tidak mungkin, kompromi terbaik adalah mengikut sertakan sampel dengan variasi yang beralasan di dalam fenomena, seting, atau masyarakat (Dobbert, 1982).
Dahulu, pelajar dalam komunitas belajar berurusan dengan isu sampel. Ketika studi the famous Yankee City sepertinya meminta sebuah studi yang paralel dengan the Deep South, Warner (dilaporkan oleh Gardner dalam White, 1984) mempertimbangkan pengidentifikasian sebuah kota yang mewakili Deep South. Setelah memilih beberapa kota yang memenuhi kriteria dari segi ukuran dan sejarah, dia bertemu dengan para pemimpin dan membangun komunikasi dalam komunitas, pada akhirnya memilih Natchez, Mississippi, sebagai tempat untuk Deep South: A Soicial Anthropological Study of Caste and Class (Davis, Gardner, & Gardner, 1941). Natchez akan digunakan untuk menegosiasi akses untuk tingkatan yang berbeda dari caste system. Kegunaan dari dua tim istri-suami, satu berkulit hitam dan satu berkulit putih, juga akan mengurangi akses. Karena mereka semua dibesarkan di South dan familiar dengan perilaku yang layak didalam caste system, maka mereka bisa mengamati, wawancara, dan berpartisipasi dalam aktivitas, interaksi yang mewakili semua tingkatan dari komunitas di Natchez.
Laporannya mendemonstrasikan bahwa Natchez, meskipun bukan seperti kebanyakan komunitas yang ada di South, tetapi tidak khas. Kriteria seting yanh abstrak, memeriksa tempat untuk tingkat yang lebih lanjut, dan berhati-hati dalam merencanakan entry memastikan bahwa (a) tim peneliti mampu berpindah-pindah melalui komunitas untuk mengumpulkan data, dan (b) Natchez bukannya bukan perwakilan dari penelitian universal. Peneliti telah mengidentifikasi tempat yang akan membuat perbandingannya menjadi maksimal dan akses untuk ijin untuk menjangkau tingkah laku dan perspektif. Sudah jelas, bahwa pemilihan dari tempat dan sampel merupakan keputusan yang sangat penting.
Dalam komunitas lainnya, ”Elmtown,” tipikal komunitas Midwestern, kekurangan dalam membangun komunikasi dengan pemimpin lokal akan membuat tim peneliti akan bertindak seperti anggota asli dalam komunitas. Lalu mereka akan membangun akses kepada orangtua dan fungsionari institusi melalui ketertarikan mereka dalam pengembangan karakter remaja. Ketertarikan ini membawa mereka untuk ajakan untuk berbicara sebelum sebuah variasi dari organisasi komunitas, memutuskan komunitas tambahan. Mereka menghabiskan sejumlah waktu untuk memikirkan seting yang informal juga dengan anak-anak mudanya. Mereka berada di sekolah menengah atas sebelum kelasnya dimulai, di siang hari, dan sepulang sekolah; mereka menhadiri kebanyakan dari aktivitas sekolah, hubungan gereja, pertemuan pramuka, tari, dan pesta; dan mereka bermain skate board, bowling, billiard, poker, dan umumnya ”hang out” di tempat biasa dikunjungi anak-anak muda. ”Teknik observasi adalah dengan bersama mereka sesering mungkin dan tidak mengkritisi kegiatan mereka, menceritakan sesuatu, atau mencampuri urusan mereka untuk menghindari kecurigaan mereka dalam beberapa minggu” (Hollingshead, 1975, p.15). Kemampuan peneliti untuk membangun akses dalam jangkauan kelompok dan akitivitas dipertinggi oleh kemampuan mereka untuk membaur. Pemilihan tempat dan sampel seharusnya direncanakan disekitaran isu yang praktikal, seperti tingkatan kenyamanan peneliti, kemampuan untuk cocok dengan peranan selama melakukan observasi partisipan, dan akses hingga jangkauan sub-kelompok dan aktivitasnya. Dalam beberapa proposal, khususnya mereka yang mempelajari tempat ganda yang dilakukan dengan beberapa peneliti untuk mempelajari organisasi, sangatlah bijak untuk membuat keputusan tentang sampel menjadi lebih baik. Hal ini akan dibahas selanjutnya.
Memilih Sampel dari Masyarakat, Tindakan, Kejadian dan atau Proses
Pada saat keputusan awal sudah dibuat untuk memfokuskan pada lokasi yang spesifik, populasi, atau fenomena yang berikutnya adalah memutuskan sampel. Proposal menjelaskan rencana, seperti yang sudah diputuskan sebelum penelitian dimulai, yang akan menuntun seleksi sampel, peneliti harus selalu sadar akan kebutuhan fleksibilitas. Seperti yang diungkapkan oleh Denzin,”semua kegiatan dari sampel adalah dilaporkan secara teoritis” (1989, p.73). Demikian, konsep-konsep yang membuat peka dari tinjauan literatur dan rumusan masalah memberikan fokus untuk pemilihan tempat dan sampel; jika mereka tidak melakukannya, peneliti setidak-tidaknya membuat prosedur dan kriteria pembuatan keputusan menjadi eksplisit.
Penentuan sampel yang dikembangkan secara baik sangat krusial untuk studi-studi yang hampir sama. Membuat keputusan logis dan mempersembahkan sebuah pemikiran akan sangat membantu mengembangkan kasus pada penelitian yang diajukan. Keputusan mengenai pengsampelan masyarakat dan kegiatan-kegiatan yang dibuat bersamaan dengan keputusan mengenai metode pengumpulan data yang spesifik untk digunakan dan seharusnya dipikirkan lebih lanjut. Ketika ditemui, contohnya, dengan kompleksitasnya mempelajari maksud dari manager perempuan terletak pada komunikasi lewat media komputer, Alvarez (1993) harus mendeskripsikan individual dan kejadian yang seperti apa akan menjadi sesuatu yang menonjol untuk studinya.
VIGNETTE 7
Memfokuskan kepada masyarakat dan kejadian
Pertanyaan umum membawa penelitian Alvarez (1993) yang mengenai komunikasi media melalui computer, secara spesifik seperti surat elektronik atau e-mail, yang merubah komunikasi manusia menggunakan teks yang terorganisir.dia tertarik akan kekuatan komunikasi lewat e-mail antar pelaku yang memiliki status yang tidak sama.
Strategi pemilihan sampel dimulai sebagaimana kebutuhan akan informasi (Patton, 1990) dalam mempelajari individu yang menyajikan fenomena secara intens. Perhatian yang hampir sama ditunjukkan ketka ada partisipan laki-laki dan perempuan dalam penelitian, memberikan literature yang teoritis akan perbedaan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan dalam kesenangan pemakaian computer. Dia menjelaskan bahwa mengamati pengiriman atau penerimaan pesan akan memberikan sedikit hasil, dia walaubagaimanapun, melontarkan beberapa pertanyaan kepada koresponden berbagi informasi bersamanya dan untuk terlibat dalam wawancara mendalam.
Dalam mendesain penelitian dengan lokasi yang ganda, dengan tim atau para peneliti, atau dengan keduanya, rencana-rencana dalam strategi pengambilan sampel sangat krusial. Miles dan Huberman (1994) memberikan petunjuk yang bagus dalam perencanaan. Vignette 8 mengilustrasikan kebutuhan yang lebih utama untuk suara, rencana pengsampelan dalam sebuah studi multi tempat yang melibatkan lebih dari satu peneliti. Rencana ini diambil dari sebuah studi tentang budaya sekolah menengah atas (Rosman, Corbertt, & Firestone, 1984) dan menggambarkan pemikiran yang ekstinsif mengenai tempat, keadaan tertentu, dan masyarakat dimana peneliti akan belajar untuk merespon secara bijaksana dan secara sensitif mengenai rumusan masalah.
Vignette 8
Pengsampelan dan Perilaku
Untuk merencanakan penelitian, peneliti mengidentifikasi kejadian-kejadian, seting, aktor, dan benda-benda yang mungkin berpotensi akan menjadi data yang bagus dalam setiap lima domain kultural: kolegalitas, komunitas, tujuan dan ekspektasi, orientasi kegiatan, dan dasar pengetahuan untuk mengajar. Poin-poin di dalamnya dalam setiap kategori menyediakan parameter untuk membingkai pengumpulan data dan mewakili inti data peneliti yakin akan menjadi berguna. Peneliti mengawali dengan seting karena hal ini merupakan sesuatu yang kongkrit, sebagaimana mereka mengumpulkan data di tempat publik (kantor utama, gang, dan tempat parkir), ruang guru atau ruan makan siang, kelas, tempat pertemuan, kantor pribadi, kantor departemen, gymnasium atau tempat locker, dan juga auditorium.
Di ruangan kedisiplinan, mereka berharap kerutinitasan atas penanganan pelanggaran, skorsing, atau pengeluaran dengan paksa; di dalam ruangan konselor, mungkin saja terjadi intervensi. Pada umumnya, peneliti berharap bahwa kejadian-kejadian yang penting dimana termasuk semuanya itu selama proses interaksi yang profesional. Hal ini juga termasuk rutinitas formal seperty fakultas dan pertemuan departemen, evaluasi, dan pertemuan persatuan; rutinitas informal seperti makan siang atau minum kopi, periode persiapan, istirahat, kedatangan di pagi hari; dan kejadian-kejadian disaat para profesional berinteraksi dengan siswa, termasuk mengajar, kegiatan ekstrakurikuler, pengskorsan dan pengeluaran paksa, pergantian daftar nama, konseling, bimbingan kelanjutan.
Kategory yang pertama – kegiatan selama proses interaksi dengan profesional – akan mempersembahkan data utama dalam kolegalitas, tujuan dan ekspektasi, dan dasar pengetahuan untuk pengajaran. Fakultas dan pertemuan departemen menjadi krusial. Dalam pertemuan ini, norma-norma memerintah definisi lokal dari pengajaran dan seting menjadi buktinya. Rutinitas pagi hari dan perjumpaan informal lainnya- meminta pertolongan, gerak-gerik yang suportif, pertanyaan mengenai bagaimana sebuah konsep atau skill tertentu merupakan bentuk pengajaran yang terbaik – juga akan mengungkapkan juga akan mengungkapkan norma-norma ini dan merefleksikan gagasan-gagasan dari kolegalitas tetapi dalam porsi seting yang sedikit tidak terstruktur.
Tabel 3.2. Pengumpulan Data: perencanaan sampling
Kolegalitas Komunitas Tujuan dan Ekspektasi Orientasi Tindakan Dasar pengetahuan
Seting
Tempat umum x x x x x
Ruang guru atau ruang makan siang x x x
Ruang kelas x x
Ruang pertemuan x x x
Kantor pribadi
Konselor x x
Pendisiplin x x
Wakil pimpinan untuk penjadwalan x
Pelatih x x
Kepala sekolah x
Kantor Departemen atau tempat kerja x x x x
Gymnasium atau locker room x x
Auditorium x
Kegiatan
Kegiatan selama profesional berinteraksi x
Fakultas/pertemuan departemen x x x
Makan siang/minum kopi/istirahat x x x
Dalam pelayanan x x
Sepulang sekolah x x
Kegiatan selama profesional dan murid berinteraksi
Mengajar x x x x
Kegiatan ekstrakurikuler x x x
Skorsing dan drop out x x x
Pergantian daftar nama x x x
Konseling x x x
Assemblies and pep rallies x x x
Pelaku
Administrator
Kepala sekolah x x x
Wakil kepsek untuk kedisiplinan x x
Wakil kepsek untuk kurikulum x x x x
Wakil kepsek untuk jadwal/nama x x x
Wakil kepsek untuk aktivitas
Konselor x x x
Pelatih x x x
Guru
Kepala departemen x x x x x
Kedudukan berbeda dalam gedung x x x x x
Departemen yang berbeda x x x x x
Murid
Tingkatan kemampuan yang berbeda x x x
Perbedaan sudut pandang x x x
Benda-benda x x x
Dokumen
Koran x x x
Pernyataan kebijakan x x x
Rekaman kehadiran x x
Rekaman disipliner x x
Rekaman hasil tes x
Objek
Logo x x
Maskot x x
Trofi x
Dekorasi x
Di tempat kerja x
Rencana fisikal x x
Kategori yang kedua – kegiatan dimana selama profesional dan murid berinteraksi – akan memberikan data mengenai komunitas, tujuan dan ekspektasi dan orientasi aksi. Keduanya di dalam kelas dan di luar kelas, ketika guru dan murid berinteraksi, mereka akan mengungkapkan atau tidak maka disitu akan ada rasa komunitas, dan apakah guru merasakan hal itu adalah penting untuk di menerjemahkan ide-ide dan konsep kedalam kegiatan seperti pelajaran atau kursus.
Sebagaimana pengumpulan data dilakukan, peneliti merencanakan untuk membuat sampel persepsi dari pelaku kunci keduanya didalam dan diluar sekolah. Akhirnya, peneliti berencana untuk mengumpulkan atau bahkan mendeskripsikan benda-benda tertentu yang akan menyediakan data disetiapnya dari lima domain. Rencana yang ada diatas, penekanannya ada pada observasi/pengamatan, karena banyak dari domain dimana peneliti mencoba untuk memahami. Demikian, mereka menduga norma dan nilai dari pola kebiasaan dan secara alamiah terjadi dalam percakapan. Wawancara membantu mereka untuk memahami seting dan mengkonstruksi ulang sejarah perubahan di sekolah menengah atas.
Perencanaan sampling terlihat di Vignette 8 dimana mencoba untuk menjamin bukti-bukti, ritual, sumber, dan interaksi akan diamati disetiap tempat. Sampel yang bersifat purposif dan teoritis, dimana dibimbing dengan kerangka kerja dan konsep yang teoritis, sering dibangun dengan desain kualitatif. Contohnya, penelitian pada budaya profesional akan menyarankan kepada peneliti seharusnya mengambil sampel diantara individu, kejadian, dan perasaan pada tahap awal dalam inisiasi sampai profesi. Sering, walau bagaimanapun, pemilihan tempat oleh peneliti dan sampling bermula dengan tempat yang mudah diakses (sebaik-baiknya sampling) dan dibangun dari dalam dan koneksi dari pengkoleksian data awal (snowball sampling).
Miles dan Huberman (1994) mendeskripsikan dengan jelas beberapa pendekatan yang berbeda untuk sampling pada tabel 3.3. Meskipunrencana seperti itu sering sekali berganti subjek, memberikan kenyataan akan penelitian lapangan, pada tahap proposal, mereka mendemonstrasikan bahwa peneliti mempunyai pemikiran melalui beberapa dari kompleksitas seting dan membuat dugaan awal tentang bagaimana membagi waktunya. Rencana seperti itu juga mengindikasikan bahwa peneliti telah mempertimbangkan baik kecukupan informasi yang di dapat dan keefektifan metode-metode tersebut. Segaris dengan pertimbangan ini, bagaimanapun isu dari peran peneliti dan partisipan adalah penting.
Tabel 3.3. Tipologis dari strategi sampling dalam penelitian kualitatif
Tipe dari sampling Tujuan
Variasi maximum Dokumen yang bervariasi dan mengidentifikasi pola yang umum
Homogen Fokus, pengurangan, pensederhanaan, memfasilitasi wawancara kelompok
Kasus penting Ijin generalisasi yang logis dan aplikasi maksimum dari informasi mengenai kasus lainnya
Dasar teroi Menemukan contoh dari sebuah konstruksi teoritis dengan demikian dapat dielaborasi dan diperiksakan
Kasus yang pasti dan tidak pasti Mengelaborasi analisis awal, mencari pengecualian, mencari variasi-variasi
Snowball dan chain Mengidentifikasi kasus-kasus dari ketertarikan yang berasal dari masyarakat yang mengetahui masyarakat yang mengetahui kasus apa yang memiliki informasi yang kaya
Kasus yang ekstrim dan menyimpang Belajar dari manifestasi yang sangat tidak biasa dari ketertarikan akan fenomena
Kasus yang tipikal Menyoroti apa yang normal dan rata-rata
Intensitas Melibatkan kasus yang memiliki kekayaan informasi yang memanifestasi fenomena secara intens, tetapi tidak dengan ekstrim
Kasus politik yang penting Menarik perhatian yang diinginkan atau menghindari perhatian yang tidak diinginkan
Acak dengan maksud tertentu Menambah kredibilitas pada sampel ketika sampel yang berpotensi menjadi maksud tertentu terlalu luas
Setrata dengan maksud tertentu Mengilustrasikan sub kelompok, memfasilitasi perbandingan
Patokan Meliputi semua kasus yang memenuhi beberapa kriteria, berguna untuk kepastian kualitas
Oportunistis Mengikuti pemimpin baru, mengambil keuntungan disaat tak terduga
Kombinasi atau campuran Melibatkan triangulasi dan fleksibilitas, menemui ketertarikan dan kebutuhan ganda
Efektifitas waktu Memanfaatkan waktu, uang, dan usaha tetapi mengorbankan informasi dan kredibilitas
Minggu, 28 Juni 2009
Marxisme
Marxisme Menurt Karl Marx dan Frederich Engels
Tokoh pertama dan namanya diabadikan sebagai suatu aliran marxis adalah Karl Marx dan temannya Frederich Engels. Mereka berasal dari Jerman dengan bukunya (dokumen) manifesto Komunis yang berisi sejarah sosial manusia yang tak lain adalah sejarah perjuangan kelas.
Untuk memahami pandangan Karl Marx dan Frederich Engels tentang sastra sebaiknya terlebih dahulu kita mengetahui pemikirannya tentang kelas ekonomi. Menurut Marx (dalam saraswati, 2003: 38) susunan masyarakat dalam bidang ekonomi yang dinamakan bangunan bawah menentukan kehidupan sosial, politik, intelektual dan kultural bangunan atas. Sejarah dipandangnya sebagai suatu perkembangan terus menerus, daya-daya kekuatan di dalam kenyataan secara progresif merekah dan ini semuanya menuju masyarakat yang ideal tanpa kelas. Evolusi tersebut tidak berjalan dengan halus, tetapi secara tersendat-sendat. Hubungan-hubungan ekonomi menimbulkan berbagai kelas yang saling bermusuhan, ini mengakibatkan pertentangan kelas yang akhirnya dimenangkan oleh suatu kelas tertentu. Hubungan yang baru seterusnya menimbulkan suatu kelas baru yang melawan kelas yang sedang berkuasa dan dengan demikian tercapailah suatu tahap baru dalam pertentangan kelas. Dalam teori ekonominya Marx terutama menerangkan, bagaimana pertentangan antara kelas borjuis dan proletar yang jaya akan melaksanakan masyarakat tanpa kelas. Perubahan dalam bangunan bawah mengakibatkan perubahan dalam bangunan atas. Bagi Marx, sastra sama dengan gejala-gejala kebudayaan lainnya mencerminkan hubungan ekonomi, sebuah karya sastra hanya dapat dimengerti kalau itu dikaitkan dengan hubungan-hubungan tersebut.
Perhatian Marx terhadap sastra dapat dilihat dari surat-surat serta karangan-karangannya yang tampak betapa Marx menghargai sebuah lukisan mengenai kenyataan masyarakat didalam sastra yang sesuai dengan contohnya, namun ia juga tidak buta terhadap nilai-nilai sastra. Ia menolak pandangan deterministik yang sempit, seolah-olah perubahan dalam bangunan atas langsung diakibatkan oleh perubahan dalam bangunan bawah. Hubungan antara produksi ekonomi di satu pihak dan produksi artstik di lain pihak, tidak seimbang. Shakespeare misalnya menulis pada suatu zaman, ketika tata sosial-ekonomi masih kkurang berkembang.
Pendapat Marx tentang sastra yang masih abstrak di atas diuraikan lebih lanjut oleh Engels. Menurut Engels sastra adalah cerminan pemantul proses sosial. Dengan konsep-konsep bahwa: (1) tendensi politik penulis haruslah disajikan secara tersirat saja. ”Semakin tersembunyi pandangan si penulis, semakin mutulah karya yang ditulisnya.” Ideologi politik bukanlah merupakan masalah utama bagi si seniman, dan karya sastranya akan menjadi lebih baik apabila ia berhasil membuat ideologi itu tetap tersembunyi. Engels mengatakan bahwa isi utama novel harus muncul secara wajar dari situasi dan peristiwa yang ada di dalamnya. (2) Pokok kedua dalam uraian Engels adalah lebih dogmatis. Ia menjelaskan bahwa setiap novelis yang berusaha mencapai realisme harus mampu menciptakan tokoh-tokoh yang representatif dalam karya-karyanya, sebab pengertian realisme meliputi reproduksi tokoh-tokoh yang merupakan tipe dalam peristiwa yang khas pula (Sapardi, 1979, 28).
Marxisme Menurut Lenin
Lenin merupakan orang yang berjasa dan dapat dipandang sebagai peletak dasar bagi kritik sastra Marxis. Ia menulis lebih banyak daripada Marx tentang masalah-masalah teoritis yang berkaitan dengan sastra dan mengembangkan suatu visi yang jelas tentang sastra. Ini terutama disebabkan karena ia berpendapat bahwa sastra merupakan suatu sarana penting dalam perjuangan proletariat melawan kapitalisme. Adapun pandangan Lenin terhadap sastra meliputi:
a. Sastra terikat akan kelas-kelas yang ada di dalam masyarakat,
b. Sastra mencerminkan kenyataan sebagai ungkapan pertentangan kelas,
c. Sastra harus dapat membangun masyarakat,
d. Tiga syarat ikatan partai
e. Adanya suatu dialektika antara sastra dan kenyataan.
Pertama, sastra terikat akan kelas-kelas yang ada di dalam masyarakat. Dari Marx, Lenin meminjam pandangan, bahwa sastra terikat akan kelas-kelas yang ada di dalam masyarakat
Kedua, sastra mencerminkan kenyataan sebagai ungkapan pertentangan kelas. Bocaccio melawan kaum rohaniawan foedal dalam kumpulan ceritanya Decomerone yang menelanjangi kebejatan para rahib. Pada zamannya Anna Karerina akibat tragik sebuah pernikahan yang tidak bahagia.
Ketiga, sastra harus membangun masyarakat. Tetapi sastra tidak hanya mencerminkan kenyataan, sastra dapat dan harus turut membangun masyarakat; ini telah diuraikan dengan panjang lebar oleh kritisi sastra Rusia pada abad ke-19. Lenin terutama dipengaruhi oleh Tsjernysjevski (1828-1889) yang menempatkan sastra dibawah perubahan-perubahan yang harus terjadi di dalam masyarakat; sastra harus berperan sebagai guru, harus menjalankan fungsi didaktik. Sastra hendaknya tidak hanya membuka mata orang bagi kekurangan-kekurangan di dalam tata masyarakat, tetapi juga menunjukkan jalan keluar. Tsjernysjevski memaparkan ide-idenya mengenai sastra dalam sebuah novel yang cukup skematik dan moralistik.
Keempat, tiga syarat ikatan partai. Dalam sebuah karangan yang ditulisnya pada tahun 1905 Lenin memaparkan apa yang diharapkannya dari sastra. Tulisan itu berjudul ”Oranisasi partai dan Sastra Partai”. Dalam karangan tersebut Lenin tidak secara eksplisit membahas sastra, melainkan terutama meneropong tulisan jurnalisti dan publistik. Dalam karangan itu Lenin mengutarakan pengertian menganai ”ikatan partai” yang menetapkan tiga syarat bagi sastra: 1) sastra harus mempunyai suatu fungsional; 2) sastra harus mengabdi kepada rakyat banyak; 3) sastra harus merupakan suatu bagian dalam kegiatan partai komunis.
Kelima, hubungan dialektik antara sastra dan kenyataan. Pada tahun 1934 diletakdan dasar bagi realisme sosialis yang sampai sekarang ini melandasi pandangan resmi mengenai kesenian di Uni Soviet. Aliran realisme sosialis, sesuai dengan pandangan Lenin, mengandaikan adanya suatu hubungan dialektik antara sastra dan kenyataan. Dari satu pihak menyatakan tercermin dalam sastra sehingga sastra dianggap menyajikan suatu tafsiran yang tepat mengenai hubungan-hubungan di dalam masyarakat (realisme), di lain pihak sastra juga mempengaruhi kenyataan sehingga mempunyai tugas mendampingi partai komunis dalam perjuangannya membangun masyarakat baru yang lebih baik (sosialistik). Realisme sosialis menuntut dari para pengarang agar melukiskan kenyataan dalam perkembangan revolusionernya, selaras dengan kebenaran dan fakta sejarah. Selain itu pelukisan yang bersifat artistik itu hendaknya digabungkan dengan tugas mendidik kaum buruh sesuai dengan masyarakat komunis. Dengan demikian sastra dibebani dua tugas yang berdeda-beda sastra hendaknya melukiskan kenyataan selaras dengan kebenaran, tetapi sekaligus kenyataan itu ingin diubahnya.
Prinsip-prinsip realisme sosialis dapat dilacak kembali pada teori marxis mengenai proses perkembangan sejarah, lagi pula pada pandangan Lenin bahwa partai harus memainkan peranan sebagai pemimpin dalam proses tersebut. Pengarang-pengarang pun harus tunduk kepada pimpinan partai. Dalam pandangan Lenin ini tidak menimbulkan kesukaran, karena seorang pengarang baru bebas sesungguh-sungguhnya bila ia melepaskan diri dari individualisme borjuis dan mengabdikan diri pada perjuangan komunis. Atau seperti dirumuskan pada kongres kedua Himpunan Pengarang, tahun 1954: ”Sebagai semboyan borjuis yang palsu dan munafik seolah-olah sastra itu lepas dari masyarakat dan bahwa seni harus diciptakan demi seni itu sendiri, maka para pengarang kita dengan bangga mengutarakan pendirian ideologis mereka yang mulia, yaitu bahwa seni harus mengabdi kepada kepentingan rakyat banyak.”
Penentuan sikap ini langsung mengakibatkan sistem sensor. Dalam pandangan partai itu dapat dimengerti – siapa yang tidak mau memberi sumbangan bagi pembangunan negara yang ideal adalah tidak berguna (ingat Plato), tetapi bagi para pengarang dan sastra sendiri dalil tersebut mengakibatkan mala petaka. Kematian atau pengucialan adalah harga yang harus dibayar oleh banyak pengarang, dan para kritisi resmipun sepakat, bahwa sastra soviet tidak atau belum mencapai taraf sastra Rusia pada abad ke sembilan belas.
Marxisme Menurut Lukacs
Lukacs merupakan orang yang berjasa menyebarkan ajaran Marx di Rusia. Dia merupakan pimpinan sebuah partai di Rusia. Lewat Lukacslah rusia mengenal aliran Marx ini. Menurut Lukacs kenyataan mempunyai berbagai tahap. Kulit luar secara langsung dapat diamati, tetapi dapat juga unsur-unsur dan kecenderungan-kecenderungan dalam kenyataan yang terus menerus berubah, tetapi yang secara teratur, menurut suatu hukum tertentu, selalu kembali. Pemikiran Lukacs mencakup: a. tugas kesenian menampilkan kenyataan, dan b. sastra menampilkan yang khas dan universal.
Pertama, tugas kesenian ialah menampilkan kenyataan dalam keseluruhannya. Seni yang sejati tidak merekam kenyataan bagaikan sebuah tustel foto, tetapi melukiskan kenyataan dalam keseluruhannya. Yang merupakan aspek paling penting di dalam kenyataan ialah masalah kemajuan manusia. Seorang pengarang besar yang melukiskan kenyataan dalam keseluruhannya, tidak dapat mengabaikan masalah tersebut dan harus mengambil sikap terhadap masalah itu, ia harus melibatkan diri. ”seorang pengarang yang tidak merasa antusias terhadap kemajuan yang tidak membenci reaksi, yang tidak mencintai kebaikan dan yang tidak menolak kejahatan, tidak dapat membedakan dengan tepat berbagai unsur itu, khusus kalau ini dilihat dalam keseluruhan perkembangan masyarakat.”
Kedua, sastra menampilkan yang khas dan universal. Pandangan Lukacs terhadap sastra yang menampilkan yang khas dan universal mirip dengan pandangan Aristoteles. Dengan melukiskan yang khusus diperlihatkan yang hakikat sehingga sastra menciptakan tokoh-tokoh, situasi-situasi dan peristiwa yang khas (tipikal) karena menampilkan kenyataan sosial dalam keseluruhannya. Berdasarkan hubungan antara yang khusus dan yang umum, maka Lukacs lebih menyukai pengarang-pengarang realis abad ke-19 (Balzac, Tolstoy) dan menolak pengarang-pengarang naturalis, karena menurut Lukacs kaum naturalis hanya melukiskan kulit kenyataan secara dangkal. Ini juga berlaku bagi para pengarang avant grade (gugus depan kafka dan para surealis) karena mereka demikian terikat pada teknik kepengarangan, sehingga tidak menyentuh hakikat kenyataan dan hanya berkisar pada kulit gejala-gejala.
2.4. Marxisme Menurut Bertlot Brecht
Polemik yang paling menarik adalah yang terjadi antara Lukacs dan pengarang drama Jerman, Bertlot Brecht. Seperti Lukacs, maka Brecht pun berpendapat bahwa seorang pengarang tidak dapat bersikap netral, ia harus memperjuangkan kepentingan kaum buruh. Tetapi menurut Brecht, pada abad ke-20 ini tidak dapat diperjuangkan dengan berkiblat pada realisme abad ke-19. Keadaan masyarakat telah berubah secara mendalam dan menuntut bentuk-bentuk kesenian lain yang serasi dengan perkembangan masyarakat. Selaku seorang seniman yang aktif Brecht tidak begitu dogmatik seperti Lukacs yang berteori saja. Brecht bahkan mempertanyakan pendapat Lukacs bahwa seni harus mencerminkan kenyataan. Menurut Brecht seni harus bertujuan mengubah masyarakat. Dalam karya-karya pentasnya Brecht melawan teater tradisional yang hanya menyajikan sebuah ilusi yang melapisi kenyataan dengan gula manis. Karya Brecht bercirikan ”efek pengasingan”, memperlihatkan pertentangan-pertentangan yang menyangkut masalah-masalah pokok. Tamatnya sering terbuka, artinya penonton sendiri yang dipersilahkan memilih pemecahan. Para pelaku sengaja memperlihatkan, bahwa mereka hanya main sandiwara saja, sehingga identifikasi dipersukar, baik penonton maupun pelaku tidak demikian saja mempersatukan pelaku dengan perannya. Teks pentas diselingi film dengan nyanyian, sehingga para penonton dirangsang untuk merenungkan secara aktif dan kritis situasi masyarakt.
Marxisme Menurut Zima
Zima merupakan tokoh selanjutnya yang berkecimpung di bidang sastra. Menurut peneliti sastra Zima yang berasal dari Ceko tetapi tinggal di negeri Belanda, dalam sosiologi sastra para ahli terlalu cepat mengandaikan adanya suatu analogi atau kemiripan antara teks fiksi dan keyataan. Ia bersedia menerima adanya suatu hubungan, tetapi kalau hanya teks maupun konteks sosial dilukiskan sebagai struktur-struktur.
Yang menarik adalah Zima berpendapat bahwa teks sastra tidak mencerminkan kenyataan. Dalam kenyataan kita tidak berjumpa dengan tokoh-tokoh yang mau dipenggal kepalanya hanya karena sikap acuh tak acuhnya. Di sini teks merupakan suatu reaksi terhadap konteks sosial. Reaksi tersebut diwujudkan dalam struktur karya sastra dan menurut arti tersebut sebuah teks selalu bersifat ironi, parodi atau imitasi.
Dalam kritik sastra Marxis yang dibicarakn diatas segi yang dipentingkan ialah implikasi sosial dan kemasyarakatan yang terkandung di dalam karya seorang pengarang. Kritik sastra Marxis menafsirkan sastra sebagai suatu gambar mengenai kenyataan sosial atau sebagai sesuatu yang menjadikan pembaca sadar mengenai kenyataan masyarakat atau kekurangannya. Sejauh sastra berhasil mencapai sasaran tersebut ditentukan pula penilaian positif yang kita buat mengenai sastra.
Padangan umum yang berlaku tentang hubungan antara sastra da marxisme adalah beberapa negara komunis, seperti misalnya Rusia dan Cina, pemerintah mengharuskan pengarangnya untuk menuruti garis partai sehingga negara-negara tersebut tidak pernah lahir karya-karya besar. Seperti diketahui, di masing-masing negara itu hanya ada satu partai, dan partailah yang menentukan segala-galanya. Sastra yang melenceng dari garis partai dianggap tidak sesuai untuk masyarakat, dan oleh sebab itu harus disingkirkan.
George Plekanov
Menurut Plekanov seni adalah cermin kehidupan sosial dan ada insting estetik yang sama sekali non sosial dan tidak terikat pada kelas sosial tertentu. Semua seni dan sastra terikat pada kelas. Seni dan sastra yang agung tidak dapat muncul dari masyarakat yang dikuasai oleh pandangan borjuis.
Pertengahan abad ke sembilan belas pengarang yang besar adalah pengarang yang paling dekat dengan masyarakat dan evolusinya yang agungkan kebutuhan zamannya, mengekspresikan semangatnya yang mewakili orang sesamanya. Leo Tolstoy: Doktrin seni untuk seni harus dihancurkan; seni harus merupakan monitor dan propaganda proses sosial. Lenin: sastra harus menjadi sebagian dari perjuangan kaum proletar: sastra harus menjadi sekrup kecil dalam mekanisme sosial demokratis.

